Home

Presentasi Sensor Suhu 3-Wire RTD

Leave a comment

Slide1

Slide2

Slide3

Slide4

Slide5

Slide6

Slide7

Slide8Selengkapnya dapat diunduh melalui link berikut ini:

Presentasi Semnas HFI-UAD 2014

Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum*) (2)

Leave a comment

Di dalam sistem penyelenggaraan pendidikan terdapat subjek atau pelaku pendidikan yaitu peserta didik. Siswa adalah subjek yang melaksanakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan dengan cara belajar sendiri (CBSA). Model pembelajaran CBSA sendiri pada beberapa dasawarsa yang lalu pernah diuji cobakan dan diterapkan sebagai kurikulum pendidikan nasional.

Dalam implementasi sistem ini, siswa mengetahui tujuan dan guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran. Hal yang perlu mendapatkan perhatian antara lain adalah kelas size, siswa homogen dalam usia, budaya, lingkungan, syarat administratif, dsb.

Sistem penyelenggaran pendidikan yang baik sudah semestinya memiliki tujuan yang jelas, definitif, terencana dan terarah. Secara umum penyelenggaraan pendidikan bertujuan guna membentuk dan mengarahkan peserta didik menjadi manusia yang memiliki kepribadian harmonis sebagaimana telah diuraikan pada bagian pertama dari tulisan ini.

Secara teknis syarat tujuan penyelenggaran pendidikan yang baik antara lain adalah:

  1. Operasional, artinya dapat diukur tingkat keberhasilannya, jelas, kurikulum tepat untuk mencapai tujuan pendidikan, tujuan sesuai dengan kebutuhan siswa.
  2. Tujuan pendidikan dapat dikomunikasikan sebelum pembelajaran dan siswa memahami tujuan tersebut.
  3. Tersedia alat ukur untuk mengukur pencapaian tujuan dan dapat dibuat dengan mudah.

Analogi jarak yang ditempuh oleh kendaraan dalam konteks pengembangan kurikulum adalah sama dengan  target yang akan dicapai oleh penyelenggaraan pendidikan yang dapat dijabarkan ke dalam poin-poin sbb :

  1. Target berupa kurikulum tiap satuan pendidikan.
  2. Target yang akan dicapai dijabarkan dalam silabi/GBPP dan berbagai media lainnya.
  3. Untuk mencapai target perlu dikembangkan rencana pelaksanaan program pembelajaran.
  4. Penjabaran tujuan/kompetensi ke dalam indikator jelas dan sesuai.
  5. Strategi/pendekatan/model/metode dan teknik sesuai dengan karakteristik materi dan siswa.

Analogi  hambatan di jalan yang ditemui oleh kendaraan dalam konteks pengembangan kurikulum adalah sama dengan constraint/kendala, problem penyelenggaraan pendidikan. yang antara lain sbb:

  1. Hambatan di jalan, sopir sakit, lesu, kendaraan rusak,perbekalan habis, jalan rusak, rambu tak tersedia, dan sebagainya.
  2. Constraint, terkait dengan physical constraint misalnya tak ada laboratorium, perpustakaan, ruang kelas, pembiayaan sarana terbatas, bantuan masyarakat tak ada, semangat kerja guru rendah, tenaga guru bukan bidang keahlian yang sesuai, tak ada buku petunjuk, harapan sulit diwujudkan dan sebagainya.

Sementara itu, analogi  bengkel untuk menservis kendaraan dalam konteks pengembangan kurikulum adalah sama dengan lembaga pengembang kurikulum. Lembaga pengembang kurikulum memiliki tenaga profesional, implementasi uji coba perlu didasarkan pada tahapan yang benar, kesulitan penerapan di lapangan mendapat tanggapan yang wajar, diagnostik kesulitan belajar perlu dikembangkan dan diimplementasikan secara cermat dan tepat, revisi kurikulum sesuai dengan perkembangan budaya, masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan kecenderungan pembelajaran yang maju.

 

*) Rangkuman materi kuliah Pengembangan dan Evaluasi Kurikulum Fisika (PEKF). Dosen pengampu Prof. Suparwoto.

Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum*) (1)

Leave a comment

Manusia secara alamiah dibekali dengan Delapan (8) Potensi yaitu :

  1. Ketuhanan – heaven
  2. Kepandaian – head
  3. Keindahan – heart
  4. Kejujuran dan kesusilaan- honest
  5. Kemasyarakatan/sosial- human relation
  6. Kepribadian – himself
  7. Kesehatan – health
  8. Keterampilan/keprigelan –hand

Manusia disebut memiliki karakter pribadi harmonis, apabila mampu mendaya gunakan kedelapan potensi tersebut di atas secara optimal dan seimbang.

Untuk membentuk sumberdaya manusia agar memiliki kepribadian yang harmonis sehingga memunculkan seluruh potensi yang ada pada dirinya, salah satu cara dapat ditempuh melalui jalur pendidikan. Ke delapan potensi alamiah yang dimiliki oleh manusia tersebut lalu dikembangkan secara dinamis lewat pendidikan persekolahan (formal) dengan memperhatikan perkembangan :

  1. lingkungan masyarakat
  2. lingkungan fisik
  3. perkembangan IPTEK

Perkembangan kepribadian manusia yang kurang sempurna, yakni hanya sebagian atau bahkan tidak ada potensi dalam dirinya yang menonjol, akan mengakibatkan terbentuknya kepribadian yang kurang harmonis sebagai berikut:

  1. intelektualistis – terlalu menonjol cipta/daya pikir, logika, rasio
  2. emosionalistis – terlalu menonjol emosi, rasa, kepekaan bathin
  3. voluntaristis – terlalu berkehendak, berkeinginan, karsa
  4. altruistis – terlalu menonjol sifat sosial, kebutuhan untuk bersosialisasi
  5. egoistis –  terlalu menonjol sifat individualisme
  6. animalistis – terlalu menonjol dalam memelihara fisik/raga
  7. dogmatis –  terlalu dogmatis, fanatis dalam berketuhanan/beragama
  8. impultis –  terlalu mengutamakan keterampilan/keahlian fisik semata

Untuk mencetak generasi  unggul dan berkualitas yang memiliki kepribadian harmonis, dimana ke delapan potensi alamiah manusia dapat berkembang secara dinamis dan seoptimal mungkin, maka kurikulum sebagai “jantungnya pendidikan” dikembangkan atas prinsip-prinsip dasar sebagai berikut:

  1. Dinamis – sasaran peningkatan kualitas, potensi, kecerdasan dan minat.
  2. Fleksibel – sesuai dengan tuntutan dunia kerja, pembangunan, dan kemajuan iptek
  3. Visioner- menuju ke masa depan yang memuat life skill
  4. Kurikulum dapat dijabarkan ke dalam silabus yang relevan, sistematis, konsisten, memadai, actual, kontekstual, dan menyeluruh.

Kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum dapat diibaratkan sebagai alat angkut untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.  Karena menggunakan istilah alat angkut/ kendaraan  maka harus ada sopir/guru, penumpang/siswa, tujuan yakni tempat yang dituju/tujuan pendidikan, jarak tempuh sebagai target kurikulum, hambatan diperjalanan sebagai pembatas/constraint, bengkel sebagai sarana pemeliharaan dan pengembangan alat angkut/lembaga perencanaan kurikulum. Kita dapat membuat analogi antara sistem penyelenggaraan pendidikan yang mencakup: kurikulum dan tenaga pengajar (guru) dengan alat angkut dan sopirnya sbb:

  1. Alat angkut/kendaraan merupakan sarana menuju suatu tempat dengan berbagai komponennya bekerja secara sistemik dan sinergis.  Kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Komponen kurikulum terdiri dari komponen pokok dan penunjang.Pertimbangan sebelum menggunakan kendaraan antara lain :  Telah diujicoba, kesesuaian antara jenis kendaraan dengan jarak dan muatan, komponen utama telah siap, misalnya : bensin, ban, dan sebagainya.Pertimbangan sebelum menggunakan kurikulum antara lain : telah diujicoba, kesesuaian tujuan dengan isi dan sarana yang tersedia, kesiapan bahan, metode, sarana, prasarana, guru dan sebagainya.
  2. Sopir adalah petugas yang menjalankan kendaraan yang telah dibekali keterampilan mengemudikan kendaraan, bertanggung jawab dan santun dalam berbicara dan bertindak. Syarat seorang sopir di antaranya memiliki SIM, dewasa, terampil dan sebagainya, mengetahui seluk beluk mesin dan mampu memperbaiki/merawat  dan beradaptasi terhadap kendaraan. Guru adalah seorang yang bertugas mendidik, mengajar, melatih atas dasar keahlian, tanggung jawab dan kesejawatan. Syarat guru yang baik adalah profesional, memiliki keahlian, tanggung jawab dan mampu mengembangkan aspek kesejawatan. Memiliki sertifikat mendidik, menguasai dan mampu memanfaatkan semua komponen kurikulum untuk memberdayakan siswa.

Adapun profesi guru sebagai driver penyelenggaraan pendidikan, diharuskan sekurang-kurangnya memiliki dua kemampuan utama sebagai berikut :

  1. Berpikir abstrak : kreatif, efektif, efisien, terampil, komunikatif dsb.
  2. Komitmen :  peduli thd tugas pokok; partisipasi aktif dalam tugas/layanan profesional, tanggung jawab, kolaboratif, kooperatif   dsb.

Dengan mengkombinasi silang antara kelebihan dan kekurangan seorang guru terhadap dua kemampuan di atas, dapat dibuat kategori/tipe guru yang berjumlah empat (4) macam yaitu sebagai berikut:

  1. A+    dan   K  +   :  guru terbaik, guru profesional.
  2. A+    dan   K  –    :  guru suka mengkritik dengan JARKONI (iso ujar ora iso nglakoni), suka berteori namun tidak sanggup melaksanakan.
  3. A –     dan  K   +   :  guru suka beralasan sibuk, enggan berpikir kritis, menolak bila menghadapi tugas, terobosan, eksperimen, atau inovasi baru.
  4. A  –    dan   K  –     : guru acuh tak acuh dengan tugas pokoknya.

Keterangan:

  • A : berpikir abstrak
  • K : komitmen/kepedulian
  • + : Menonjol
  • – : Kurang

 

*) Rangkuman materi kuliah Pengembangan dan Evaluasi Kurikulum Fisika (PEKF). Dosen pengampu Prof. Suparwoto.

Q & A Supervisi Pendidikan (Part 3)

Leave a comment

Q : Apabila supervisi kolaborasi ini dapat dilaksanakan, apakah pembinaan sebagai tindak lanjut supervisi juga dapat dilaksanakan secara berkolaborasi?

A : Para guru perlu mendapatkan pembinaan guna meningkatkan profesionalismenya. Pembinaan adalah salah satu tindak lanjut nyata dari supervisi. Perlunya pembinaan secara berkelanjutan didasari kenyataan bahwa perkembangan profesi guru dibandingkan dengan perkembangan ilmu dan teknologi tidaklah berimbang. Perkembangan ilmu dan teknologi di bidang pendidikan lebih cepat dibandingkan dengan perkembangan profesi yang dimiliki oleh guru pada umumnya.

Sebagai langkah antisipasi agar perkembangan profesi guru tidak jauh tertinggal oleh pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka salah satu cara yang dapat ditempuh oleh supervisor adalah dengan menyelenggarakan suatu kegiatan pembinaan. Sebagaimana halnya kegiatan supervisi, maka pembinaan tsb diupayakan untuk dapat dilaksanakan secara kolaboratif, melibatkan pengawas dan kepala sekolah.

Dalam pelaksanaannya, pembinaan akan terasa lebih mudah, dimana guru pada tahap sebelumnya telah memperoleh supervisi secara intensif. Tinggal kemudian bagaimana langkah supervisor didalam menindak lanjuti dan memanfaatkan hasil-hasil supervisi yang antara lain dapat dijadikan pedoman guna menentukan arah dan strategi pembinaan selanjutnya.

Pembinaan adalah follow up nyata dari kegiatan supervisi yang dilaksanakan segera setelah tahapan supervisi berakhir. Pembinaan diperkirakan memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini berbeda dengan kegiatan supervisi yang hanya bersifat temporer. Pada prinsipnya kegiatan pembinaan terintegrasi dan melekat dalam setiap tugas pokok penyelenggaraan pendidikan. Dalam kaitannya dengan hal tsb, kepala sekolah diharapkan lebih berperan aktif dalam mengoptimalkan kegiatan pembinaan di tempat tugasnya masing-masing.

Pengawas yang berasal dari luar sekolah tidak dapat terjun setiap saat mendampingi aktivitas guru di kelas. Pengawas juga tidak mungkin terus menerus berada di satu sekolah, mengingat seorang pengawas memiliki tanggung jawab melaksanakan supervisi di sekolah-sekolah yang lain. Durasi pembinaan kolaboratif yang berjangka panjang dan terbatas di lingkungan kerja satuan pendidikan masing-masing, sehingga tugas dan keterlibatan pengawas cukup dilaksanakan secara berkala. Kendati demikian seorang pengawas dituntut tetap selalu tanggap dan siap apabila dimintai bantuan.

Pembinaan kolaboratif antara kepala sekolah dan pengawas dapat dilaksanakan secara konsultatif. Berbagai kendala yang ditemui di lapangan kemudian dikonsultasikan oleh kedua belah pihak. Selanjutnya supervisor dapat memberikan kontribusinya dalam berbagai cara guna membantu dan memberikan pelayanan kepada guru. Kepala Sekolah diharapkan untuk terus menjaga hubungan profesional dengan pengawas. Hal tsb dirasa penting, mengingat peran pengawas masih sangat diperlukan meskipun tidak seintensif seperti sebelumnya.

Ada tiga aspek pembinaan guru yaitu pengembangan pribadi, kompetensi dan sosial. Pembinaan terhadap guru dapat dilakukan secara preventif dan kuratif. Secara preventif dengan cara menciptakan hubungan personal yang akrab, harmonis dan bersahabat. Juga dilakukan dengan cara membantu dan membimbing para guru untuk dapat menciptakan kondisi belajar dan proses belajar yang baru dan efektif.

Dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan di satuan pendidikan masing-masing, peran kepala sekolah hendaknya dapat lebih diberdayakan. Hal ini mengingat tugas, kewenangan dan tanggung jawabnya sebagai salah satu unsur penting dalam sistem sekolah. Diantara peran yang dapat dimainkan secara optimal oleh Kepala Sekolah adalah meningkatkan hubungan personal dengan para guru yang sudah terjalin akrab sehingga akan terbentuk kepribadian guru yang berkarakter didalam menjalankan setiap tugasnya dan terwujud interaksi sosial yang harmonis diantara seluruh komponen pelaku pendidikan.

Dalam rangka meningkatkan kinerja dan profesionalisme guru, pengawas dapat memberikan bantuan dan layanan teknis yang spesifik kepada guru.Di sisi lain, efektifitas model pembelajaran sebagai hasil pembinaan yang didalamnya mencakup peningkatan profesionalisme tenaga pendidik memerlukan waktu yang tidak pendek, hingga pada akhirnya terwujud sebuah metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan siswa.

Pembinaan kuratif pada dasarnya adalah memperbaiki hal-hal yang kurang menarik yang terjadi pada guru. Dengan memperhatikan dan menganalisis berbagai hasil temuan supervisi, selanjutnya dapat diidentifikasi kelemahan dan kekurangan yang ada pada guru. Kelemahan tersebut dapat berasal dari faktor internal maupun eksternal. Dengan memahami hal tersebut, kita akan mengerti bahwa sumber permasalahan sesungguhnya tidak hanya terletak pada personal guru saja namun saling terkait dengan penyebab yang lain.

Kelemahan yang ada bukan diskenariokan sebagai temuan untuk menyudutkan atau mendiskreditkan guru, namun dijadikan sebagai masukan dan bahan evaluasi yang sangat berharga demi perbaikan di masa mendatang. kelemahan-kelemahan tsb hendaknya tidak diekspos secara vulgar/terang-terangan di depan guru karena hal ini justru menimbulkan kesan negatif. Sebaliknya penyampaian sisi-sisi kelemahan yang ada pada guru tsb dapat diberikan dalam bentuk dorongan moral yang konstruktif yang akan meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri mereka.

Q & A Supervisi Pendidikan (Part 2)

Leave a comment

Q : Apabila supervisi kolaborasi sudah menjadi keputusan bersama antara pengawas dan kepala sekolah dan akan dicoba dilaksanakan, apakah para guru bersedia untuk disupervisi oleh pengawas dan kepala sekolah secara bersama-sama?

A : Pada umumnya sikap para guru menyatakan kesiapan dan kesediaannya untuk disupervisi secara bersama-sama oleh pengawas dan kepala sekolah. Hal ini didasari kenyataaan bahwa supervisi itu sendiri sangat dibutuhkan oleh guru guna menunjang peningkatan profesionalisme mereka dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran.

Dimuka telah kami sampaikan bahwa supervisi merupakan salah satu sarana meningkatkan profesionalisme guru. Dalam kaitannya dengan upaya peningkatan profesionalisme guru, memerlukan adanya standarisasi guru profesional yang terdiri atas:

1) kualifikasi akademik: yaitu ijazah jenjang pendidikan/akademik yang harus dimiliki oleh guru atau dosen sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan pendidikan formal di tempat penugasan. Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat dari perguruan tinggi terakreditasi.

2) Kompetensi: adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan yang meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Kompetensi telah menjadi tuntutan profesionalisme, karena dengan memiliki kompetensi, khususnya dalam penguasaan materi dan metode pembelajaran akan sangat mendukung setiap aktivitas pembelajaran dan transfer pengetahuan.

3) Sertifikasi: adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru profesional, dimana sertifikat pendidik adalah bukti formal pengakuan yang diberikan kepada guru sebagai tenaga profesional dan telah memenuhi persyaratan. Sertifikasi dimaksudkan guna mengukur dan menilai tingkat profesionalisme dan kompetensi tenaga pengajar. Sertifikasi adalah bukti legal formal bahwa guru yang bersangkutan telah memiliki kriteria, kapasitas, dan kapabilitas yang memadai untuk melaksanakan tugasnya sehari-hari.

Strategi supervisi kolaboratif, melibatkan pengawas dan kepala sekolah secara bersama-sama mensupervisi guru. Tidak seperti supervisi klinis yang diberikan oleh kepala sekolah secara mandiri, dalam supervisi kolaboratif pengawas terlibat secara aktif, mengambil peran yang signifikan dalam berbagai kesempatan pelaksanaan supervisi.

Dari sudut pandang supervisi kolaboratif, supervisi yang dilaksanakan oleh kedua belah pihak diarahkan untuk memberikan bantuan teknis dan layanan supervisi yang lebih spesifik, intensif dan sesuai kebutuhan guru. Jalinan kerjasama antara kedua belah pihak diharapkan akan menghasilkan sinergi dan pola kerjasama yang kuat dalam menjalankan setiap tugas supervisi dan memecahkan setiap persoalan yang dihadapi.

Sosok Kepala Sekolah secara personal dan institusional dianggap memiliki kedekatan khusus dengan para guru. Biasanya Kepala Sekolah diposisikan sebagai yang “dituakan” oleh para guru. Dengan kewenangannya, Kepala Sekolah diharapkan secara mandiri dapat melaksanakan supervisi klinis  yang intensif dan semakin membina kedekatan yang sudah ada. Di sisi lain, pengawas sebagai pihak di luar sekolah sekiranya dapat menularkan keterampilan, wawasan dan pengalaman supervisi yang diperolehnya dari berbagai sekolah yang ia kunjungi.

Strategi supervisi yang hendak dibangun menekankan kolaborasi antara model pembimbingan dan dialog dengan model supervisi direktif yang umumnya berupa pengarahan langsung atau perintah-perintah. Supervisor mendengarkan secara langsung kebutuhan dan keluhan guru kemudian dari berbagai persoalan yang ada akan diupayakan solusinya secara bersama-sama.

Hal tsb dalam pelaksanaannya telah sesuai dengan model pendekatan supervisi kolaboratif,  yang menggabungkan antara pendekatan direktif dan non direktif menjadi sebuah pendekatan baru yang bernuansa humanis dan menempatkan supervisor (pengawas dan kepala sekolah) dan supervisee (guru) dalam sebuah pola kerjasama yang efektif sehingga akan terbina suasana yang lebih akrab dan harmonis.

 

Q & A Supervisi Pendidikan (Part 1)

Leave a comment

Q : Bagaimana pendapat pengawas dan kepala sekolah mengenai objek supervisi apabila dilakukan secara kolaborasi, apakah mulai mensupervisi perencanaan, kemudian pelaksanaan dan evaluasi atau tidak perlu supervisi perencanaan?

A : Dalam kajian supervisi kolaboratif, perilaku supervisi yang menonjol dari seorang supervisor dan sudah semestinya menjadi bagian dari karakter dirinya adalah “presenting, problem solving, and negotiating”. Secara teknis ketiga karakter tersebut dapat dijabarkan ke dalam tindakan: menyajikan, menjelaskan, mendengarkan, memecahkan masalah, dan negosiasi.

Menurut pandangan pendekatan psikologi kognitif, esensi belajar adalah perpaduan antara kegiatan individu dengan lingkungan yang pada gilirannya akan berpengaruh dalam pembentukan aktivitas individu. Untuk mencapai prinsip tersebut, hendaknya objek supervisi diupayakan secara  holistik menyentuh setiap unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan dan seluruh sendi aktivitas pembelajaran.

Tim Pakar Manajemen Pendidikan mengungkapkan pandangannya bahwa secara umum proses pelaksanaan supervisi dilaksanakan melalui tiga tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Kegiatan perencanaan pada dasarnya mengacu pada seluruh kegiatan yang bertujuan mengidentifikasi setiap permasalahan, yakni mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu dilakukan supervisi. Identifikasi dilaksanakan dengan cara menganalisis kelebihan, kekurangan, peluang, dan ancaman dalam seluruh aspek dan aktivitas pembelajaran dengan tujuan agar supervisi berjalan efektif dan tepat sasaran.

Kegiatan pelaksanaan merupakan kegiatan nyata yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kapasitas guru, berupa pemberian bantuan maupun asistensi supervisor kepada guru. Agar dalam implementasi kegiatan ini dapat berjalan efektif dan sesuai harapan, maka supervisor hendaknya mengupayakan pelaksanaan supervisi selalu berpegang kepada perencanaan dan tujuan awal supervisi itu sendiri.

Supervisi tidak berhenti pada tataran pelaksanaan saja melainkan perlu adanya follow up untuk melihat keberhasilan proses dan hasil pelaksanaan supervisi. Tindak lanjut tsb dapat berupa evaluasi kegiatan supervisi guna mengevaluasi, menelaah dan mempelajari faktor keberhasilan maupun kegagalan proses dan hasil pelaksanaan supervisi yang kesemuanya dilakukan secara kolaboratif dan komprehensif.

Ketiga tahapan di atas saling berhubungan erat satu dengan lainnya. Tanpa adanya perencanaan yang baik dan terarah, pelaksanaan supervisi dikhawatirkan justru berjalan tanpa pedoman yang jelas. Di sisi lain, kita tidak dapat menelaah secara tuntas tingkat keberhasilan proses maupun outcome supervisi apabila dalam kegiatan supervisi tidak menyertakan evaluasi terhadap kegiatan yang sudah diprogramkan.

Dengan demikian, pendekatan kolaboratif yang bersifat holistik dan komprehensif sudah semestinya mensyaratkan sebuah model supervisi yang melibatkan seluruh kegiatan dimulai dari mulai perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi.

Perlu menjadi catatan bahwa sebelum memulai pelaksanaan supervisi, antara pengawas dan kepala sekolah hendaknya secara bersama-sama membangun visi dan misi yang sejalan, dan merumuskan konsep dan strategi yang sinkron untuk mencapai sebuah model supervisi yang menjadi keinginan dan harapan bersama.

Kedua pihak diharapkan secara terbuka dan transparan, merumuskan kegiatan supervisi pada setiap tahapan dalam rangka menetapkan strategi, instrumen, kriteria dan indikator setiap tahapan yang berpedoman kepada peraturan dan petunjuk yang ada tanpa mengesampingkan dinamika, peluang dan tantangan yang dihadapi.

Sebagai contoh pada tahap perencanaan, timbul pertanyaan apakah yang dimaksud dengan kelebihan, kekurangan, peluang, dan ancaman kegiatan pembelajaran? Apakah kriteria dan indikator untuk menilai kekurangan dan kelebihan seorang guru dalam mengajar?

Hal-hal tersebut di atas dan lain-lain yang serupa, hendaknya telah diupayakan memperoleh  jawaban yang sinkron antara pengawas dan kepala sekolah agar nantinya tidak terjadi bias penilaian yang dapat mempengaruhi pembinaan, pengembangan dan evaluasi kegiatan supervisi di masa mendatang. Di sini dituntut kepiawaian kedua belah pihak dalam  bermusyawarah, bernegosiasi, dan memecahkan masalah, dimana ketiga hal tsb memang telah menjadi tugas utama dan ciri-ciri seorang supervisor.

Yang dimaksud berimbang adalah, dalam setiap kegiatan supervisi kolaboratif ini, keterlibatan dan kontribusi kedua belah pihak didasarkan atas pembagian tugas yang adil dan saling melengkapi satu dengan yang lain. Dengan pembagian wewenang yang adil dan berimbang akan memunculkan kesadaran dan tanggung jawab kedua belah pihak sehingga dapat meminimalisasi kecurigaan dan kesalah pahaman yang mungkin terjadi, dan pada gilirannya akan menumbuhkan sinergi dan kerjasama yang semakin kuat.

Sehingga dalam pelaksanaannya, aspek-aspek tertentu yang menjadi spesialisasi penilaian supervisor seperti misalnya administratif dan manajemen sekolah, diberikan keleluasaan kepada supervisor untuk melaksanakan penilaian. Sementara pada aspek pembinaan guru dan supervisi akademik/klinis menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan keterlibatan supervisor dalam aspek ini menjadi tidak terlalu dibutuhkan.

Merumuskan Strategi Pembelajaran, Pembahasan dari Perspektif Analisis Statistik Pendidikan

Leave a comment

 

446

Tulisan berikut akan membahas mengenai strategi pembelajaran. Pembahasan dalam tulisan ini mengacu pada perspektif analisis data statistik pendidikan. Tulisan ini merupakan rangkuman pembahasan  atas beberapa sampel kasus penelitian, dalam upaya penulis mengidentifikasi berbagai variabel yang mempengaruhi prestasi belajar peserta didik . Pemahaman yang memadai atas variabel-variabel  tersebut diharapkan dapat membantu merumuskan strategi pembelajaran yang tepat dan efektif guna mendukung penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas.

Data kuantitatif statistik pendidikan dari beberapa sampel penelitian kemudian dianalisis menggunakan bantuan software SPSS 17. Langkah selanjutnya adalah analisis dan deskripsi kualitatif untuk mengurai pokok permasalahan pembelajaran yang kerap ditemui di lapangan dan pada kenyataannya sangat dipengaruhi oleh berbagai variabel yang saling terkait satu dengan lainnya. Faktor tersebut berasal dari peserta didik, tenaga pendidik maupun beragam faktor lainnya yang tidak tercakup dalam penelitian ini.

Selanjutnya melalui pembahasan ini penulis bermaksud mengungkap titik-titik kelemahan dan kendala penyelenggaraan pendidikan  yang kerap menjadi permasalahan pelik yang penulis dapat simpulkan dari beberapa kasus penelitian tsb. Sekiranya pemecahan masalah yang hendak disodorkan dalam tulisan ini dapat menjadi masukan bagi perbaikan dan pengembangan dunia pendidikan sehingga dapat dirumuskan sebuah strategi pembelajaran yang tepat dan efektif di masa mendatang.

Strategi Pembelajaran adalah seperangkat kebijaksanaan yang terpilih, yang telah dikaitkan dengan faktor yang menentukan warna atau strategi tersebut, yaitu : a) Pemilihan materi pelajaran (guru atau siswa), b) Penyaji materi pelajaran (perorangan atau kelompok, atau belajar mandiri), c) Cara menyajikan materi pelajaran (induktif atau deduktif, analitis atau sintesis, formal atau non formal), d) Sasaran penerima materi pelajaran (kelompok, perorangan, heterogen, atau homogen.Secara umum terdapat dua strategi pembelajaran yaitu 1) strategi yang diarahkan pengajar atau Teacher-Directed Strategies 2) Strategi yang terpusat pada mahasiswa Student-Directed Strategies.

Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat  pengaruh/kontribusi yang signifikan antara penerapan strategi pembelajaran interaktif model simulasi terhadap peningkatan nilai akhir mata kuliah rangkaian listrik mahasiswa program studi Pendidikan Teknik Elektro FT-UNM Makassar. Variabel pembelajaran interaktif menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap hasil pembelajaran. Dengan hasil ini dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran interaktif mampu meningkatkan prestasi belajar siswa bila dibanding dengan strategi/metode pembelajaran konvensional.

Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen. Sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional (UU RI No. 14 Tahun 2005 dalam Depdiknas,2004). Berdasarkan pengertian tersebut di atas, sertifikasi guru dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian pangakuan bahwa seseorang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh lembaga sertifikasi. Dengan kata lain sertifikasi guru adalah proses uji kompetensi yang dirancang untuk mengungkapkan penguasaan kompetensi seseorang sebagai landasan pemberian sertifikat pendidik (UU RI No. 14 Tahun 2005 dalam Depdiknas, 2004).

Sertifikasi kerja guru merupakan kunci untuk menuju kesuksesan, apapun profesi kita, terlebih lagi seorang guru, sertifikasi kerja sangat dituntut, agar tercapai tujuan yang diharapkan, disamping itu guru merupakan contoh bagi para siswa, oleh karena itu guru harus menujukkan sikap dan perilaku yang terpuji yang senantiasa dapat ditiru dan diteladani dengan sebaik-baiknya oleh para siswa. Dalam kaitannya dengan prestasi siswa, sertifikasi kerja guru sangat menunjang prestasi gemilang, guru yang taat pada aturan atau sertifikasi dalam tugas sudah pasti akan membawa hasil yang memuaskan, terutama dalam prestasi belajar siswa.

Guru merupakan pokok yang perlu di utamakan dan tingkatkan kemampuannya, sehingga citra sekolah sebagai lembaga pendidikan makin nampak pada output yang akan dihasilkannya. Dengan memperoleh sertifikasi, kinerja guru akan meningkat sehingga prestasi siswa meningkat pula. Namun dalam pelaksanaannya, sertifikasi dalam bentuk penilaian portofolio memberi banyak peluang pada guru untuk menempuh jalan pintas.

Hal ini disebabkan profesionalisme guru diukur dari tumpukan kertas. Indikator inilah yang kemudian memunculkan hipotesis bahwa pelaksanaan sertifikasi dalam wujud penilaian portofolio tidak akan berdampak sama sekali terhadap kinerja guru, apalagi terhadap peningkatan mutu pendidikan nasional. Di samping berbagai pertimbangan tsb dan berkaca pada pelaksanaan sertifikasi negara-negara maju, terutama dalam bidang pendidikan, peningkatkan mutu pendidikan hanya dapat dicapai dengan pola-pola dan proses yang tepat. Pola-pola instan hanya akan menghambur-hamburkan dana dan waktu sedangkan apa yang menjadi substansi sama sekali tidak tersentuh.

Hasil analisis dalam penelitian ini menunjukkan pentingnya sertifikasi guru dalam meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Hal tersebut sesuai dengan output analisis SPSS yang memperlihatkan hasil kuantitatif yang cukup signifikan dengan tingkat signifikansi dan hubungan/korelasi yang nyata antara status guru yang bersertifikat dengan kapasitas dan kapabilitasnya didalam meningkatkan prestasi belajar fisika peserta didik.

Penelitian yang dilakukan Christella dkk (2013) memaparkan bahwa secara keseluruhan pada beberapa kelas/sampel yang diuji tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara tambahan pelajaran dengan prestasi belajar siswa. Hal ini sesuai dengan output analisis yang menunjukkan tidak adanya signifikansi antara penambahan jam pelajaran dengan prestasi siswa. Sementara penelitian Nur Faizah (2010) menyimpulkan hasil yang berbeda dimana penambahan kegiatan belajar dalam bentuk pemberian bimbingan belajar/tambahan jam pelajaran akan meningkatkan prestasi belajar.

Penelitian Retno Dwi Palupi (2009) diperoleh hasil bahwa motivasi belajar mempengaruhi hasil belajar siswa, sehingga siswa yang termotivasi akan meningkat prestasi belajarnya. Sementara itu, hasil analisis terhadap data statistik pendidikan menunjukkan tidak adanya perbedaan prestasi siswa yang disebabkan oleh motivasi siswa dalam mempelajari fisika. Terdapat perbedaan antara analisis output SPSS dengan kajian referensi.

Dapat ditambahkan bahwa penelitian yang dilakukan oleh Ria Rusdiana (2009) menunjukkan adanya hubungan signifikan antara motivasi siswa dengan prestasi belajar. Diperoleh hasil analisis sebagai berikut: pada variabel motivasi belajar, yakni 13.5% siswa dengan motivasi positif pada kategori tinggi, 73.6% siswa dengan motivasi dalam kategori sedang dan 10.2%. Siswa dengan motivasi negatif dalam kategori rendah. Sedangkan pada varibelprestasi belajar, yakni siswa dengan prestasi tinggi sebesar 98,30%, siswa denganprestasi sedang sebesar 1,69%, dan siswa dengan prestasi rendah sebesar 0%.

Hasil analisis uji hipotesis dalam beberapa kasus penelitian yang menjadi bahan pembahasan dalam tulisan ini, diperoleh hubungan yang signifikan yaitu sebesar 1,350 atau hubungan yang berpengaruh hingga 1,350% (Sig F = 0.000; sig = 0.000 <0.05. Nilai ini dapat diartikan bahwa semakin positif motivasi belajar siswa maka semakin besar pula prestasi belajar siswa.

Analisis kovariat Nilai UAN IPA SMP dan pengaruhnya terhadap prestasi belajar fisika masih sangat sedikit bahan kajian dan referensi yang meneliti hubungan antara kedua variabel/kovariat tersebut. Mengingat keterbatasan ini, penulis mengacu pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Rusylia (2012) . Hasil penelitian Rusyla memaparkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara nilai UAN IPA Terpadu dengan prestasi belajar Biologi siswa Kelas X MA.

Penulis  menyadari bahwa mata pelajaran biologi yang menjadi objek penelitian dalam kajian referensi di atas berlainan dengan maksud dan tujuan awal penelitian ini. Kendati demikian, hal tersebut masih dapat dimaklumi mengingat antara ilmu fisika dan biologi masih berada dalam satu rumpun ilmu pengetahuan yang sama yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sementara itu output analisis data oleh software SPSS justru menunjukkan kesimpulan yang berbeda, yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara nilai UAN IPA siswa terhadap prestasi belajar fisika di SMA.

Daftar Referensi:

  1. .http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/nurhidayati-spd-m-hum/ppm-metode-pembelajaran-fix.pdf
  2. http://www.ft-unm.net/medtek/Jurnal_Medtek_Vol.2_No.1_April_2010/Nasir%20MAlik.pdf
  3. http://digilib.unimed.ac.id/public/UNIMED-Article-23931-Abdul%20Halim.pdf
  4. http://setifikasigurudandosen.blogspot.com/2010/09/pengaruh-sertifikasi-guru-terhadap-mutu.html
  5. http://skripsi.fip.um.ac.id/hubungan-antara-persepsi-tentang-jam-pelajaran-tambahan-dan-prestasi-belajar-siswa-kelas-unggulan-dan-reguler-di-smp-laboratorium-universitas-negeri-malang.html
  6. http://digilib.uin-suka.ac.id/5109/
  7. http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/ekonomi-pembangunan/article/view/5623
  8. http://lib.uin-malang.ac.id/?mod=th_detail&id=05410039
  9. http://library.walisongo.ac.id/digilib/files/disk1/141/jtptiain–ruslyautam-7032-1-

Older Entries