Manusia secara alamiah dibekali dengan Delapan (8) Potensi yaitu :

  1. Ketuhanan – heaven
  2. Kepandaian – head
  3. Keindahan – heart
  4. Kejujuran dan kesusilaan- honest
  5. Kemasyarakatan/sosial- human relation
  6. Kepribadian – himself
  7. Kesehatan – health
  8. Keterampilan/keprigelan –hand

Manusia disebut memiliki karakter pribadi harmonis, apabila mampu mendaya gunakan kedelapan potensi tersebut di atas secara optimal dan seimbang.

Untuk membentuk sumberdaya manusia agar memiliki kepribadian yang harmonis sehingga memunculkan seluruh potensi yang ada pada dirinya, salah satu cara dapat ditempuh melalui jalur pendidikan. Ke delapan potensi alamiah yang dimiliki oleh manusia tersebut lalu dikembangkan secara dinamis lewat pendidikan persekolahan (formal) dengan memperhatikan perkembangan :

  1. lingkungan masyarakat
  2. lingkungan fisik
  3. perkembangan IPTEK

Perkembangan kepribadian manusia yang kurang sempurna, yakni hanya sebagian atau bahkan tidak ada potensi dalam dirinya yang menonjol, akan mengakibatkan terbentuknya kepribadian yang kurang harmonis sebagai berikut:

  1. intelektualistis – terlalu menonjol cipta/daya pikir, logika, rasio
  2. emosionalistis – terlalu menonjol emosi, rasa, kepekaan bathin
  3. voluntaristis – terlalu berkehendak, berkeinginan, karsa
  4. altruistis – terlalu menonjol sifat sosial, kebutuhan untuk bersosialisasi
  5. egoistis –  terlalu menonjol sifat individualisme
  6. animalistis – terlalu menonjol dalam memelihara fisik/raga
  7. dogmatis –  terlalu dogmatis, fanatis dalam berketuhanan/beragama
  8. impultis –  terlalu mengutamakan keterampilan/keahlian fisik semata

Untuk mencetak generasi  unggul dan berkualitas yang memiliki kepribadian harmonis, dimana ke delapan potensi alamiah manusia dapat berkembang secara dinamis dan seoptimal mungkin, maka kurikulum sebagai “jantungnya pendidikan” dikembangkan atas prinsip-prinsip dasar sebagai berikut:

  1. Dinamis – sasaran peningkatan kualitas, potensi, kecerdasan dan minat.
  2. Fleksibel – sesuai dengan tuntutan dunia kerja, pembangunan, dan kemajuan iptek
  3. Visioner- menuju ke masa depan yang memuat life skill
  4. Kurikulum dapat dijabarkan ke dalam silabus yang relevan, sistematis, konsisten, memadai, actual, kontekstual, dan menyeluruh.

Kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum dapat diibaratkan sebagai alat angkut untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.  Karena menggunakan istilah alat angkut/ kendaraan  maka harus ada sopir/guru, penumpang/siswa, tujuan yakni tempat yang dituju/tujuan pendidikan, jarak tempuh sebagai target kurikulum, hambatan diperjalanan sebagai pembatas/constraint, bengkel sebagai sarana pemeliharaan dan pengembangan alat angkut/lembaga perencanaan kurikulum. Kita dapat membuat analogi antara sistem penyelenggaraan pendidikan yang mencakup: kurikulum dan tenaga pengajar (guru) dengan alat angkut dan sopirnya sbb:

  1. Alat angkut/kendaraan merupakan sarana menuju suatu tempat dengan berbagai komponennya bekerja secara sistemik dan sinergis.  Kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Komponen kurikulum terdiri dari komponen pokok dan penunjang.Pertimbangan sebelum menggunakan kendaraan antara lain :  Telah diujicoba, kesesuaian antara jenis kendaraan dengan jarak dan muatan, komponen utama telah siap, misalnya : bensin, ban, dan sebagainya.Pertimbangan sebelum menggunakan kurikulum antara lain : telah diujicoba, kesesuaian tujuan dengan isi dan sarana yang tersedia, kesiapan bahan, metode, sarana, prasarana, guru dan sebagainya.
  2. Sopir adalah petugas yang menjalankan kendaraan yang telah dibekali keterampilan mengemudikan kendaraan, bertanggung jawab dan santun dalam berbicara dan bertindak. Syarat seorang sopir di antaranya memiliki SIM, dewasa, terampil dan sebagainya, mengetahui seluk beluk mesin dan mampu memperbaiki/merawat  dan beradaptasi terhadap kendaraan. Guru adalah seorang yang bertugas mendidik, mengajar, melatih atas dasar keahlian, tanggung jawab dan kesejawatan. Syarat guru yang baik adalah profesional, memiliki keahlian, tanggung jawab dan mampu mengembangkan aspek kesejawatan. Memiliki sertifikat mendidik, menguasai dan mampu memanfaatkan semua komponen kurikulum untuk memberdayakan siswa.

Adapun profesi guru sebagai driver penyelenggaraan pendidikan, diharuskan sekurang-kurangnya memiliki dua kemampuan utama sebagai berikut :

  1. Berpikir abstrak : kreatif, efektif, efisien, terampil, komunikatif dsb.
  2. Komitmen :  peduli thd tugas pokok; partisipasi aktif dalam tugas/layanan profesional, tanggung jawab, kolaboratif, kooperatif   dsb.

Dengan mengkombinasi silang antara kelebihan dan kekurangan seorang guru terhadap dua kemampuan di atas, dapat dibuat kategori/tipe guru yang berjumlah empat (4) macam yaitu sebagai berikut:

  1. A+    dan   K  +   :  guru terbaik, guru profesional.
  2. A+    dan   K  –    :  guru suka mengkritik dengan JARKONI (iso ujar ora iso nglakoni), suka berteori namun tidak sanggup melaksanakan.
  3. A –     dan  K   +   :  guru suka beralasan sibuk, enggan berpikir kritis, menolak bila menghadapi tugas, terobosan, eksperimen, atau inovasi baru.
  4. A  –    dan   K  –     : guru acuh tak acuh dengan tugas pokoknya.

Keterangan:

  • A : berpikir abstrak
  • K : komitmen/kepedulian
  • + : Menonjol
  • – : Kurang

 

*) Rangkuman materi kuliah Pengembangan dan Evaluasi Kurikulum Fisika (PEKF). Dosen pengampu Prof. Suparwoto.

Advertisements