Q : Bagaimana pendapat pengawas dan kepala sekolah mengenai objek supervisi apabila dilakukan secara kolaborasi, apakah mulai mensupervisi perencanaan, kemudian pelaksanaan dan evaluasi atau tidak perlu supervisi perencanaan?

A : Dalam kajian supervisi kolaboratif, perilaku supervisi yang menonjol dari seorang supervisor dan sudah semestinya menjadi bagian dari karakter dirinya adalah “presenting, problem solving, and negotiating”. Secara teknis ketiga karakter tersebut dapat dijabarkan ke dalam tindakan: menyajikan, menjelaskan, mendengarkan, memecahkan masalah, dan negosiasi.

Menurut pandangan pendekatan psikologi kognitif, esensi belajar adalah perpaduan antara kegiatan individu dengan lingkungan yang pada gilirannya akan berpengaruh dalam pembentukan aktivitas individu. Untuk mencapai prinsip tersebut, hendaknya objek supervisi diupayakan secara  holistik menyentuh setiap unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan dan seluruh sendi aktivitas pembelajaran.

Tim Pakar Manajemen Pendidikan mengungkapkan pandangannya bahwa secara umum proses pelaksanaan supervisi dilaksanakan melalui tiga tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Kegiatan perencanaan pada dasarnya mengacu pada seluruh kegiatan yang bertujuan mengidentifikasi setiap permasalahan, yakni mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu dilakukan supervisi. Identifikasi dilaksanakan dengan cara menganalisis kelebihan, kekurangan, peluang, dan ancaman dalam seluruh aspek dan aktivitas pembelajaran dengan tujuan agar supervisi berjalan efektif dan tepat sasaran.

Kegiatan pelaksanaan merupakan kegiatan nyata yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kapasitas guru, berupa pemberian bantuan maupun asistensi supervisor kepada guru. Agar dalam implementasi kegiatan ini dapat berjalan efektif dan sesuai harapan, maka supervisor hendaknya mengupayakan pelaksanaan supervisi selalu berpegang kepada perencanaan dan tujuan awal supervisi itu sendiri.

Supervisi tidak berhenti pada tataran pelaksanaan saja melainkan perlu adanya follow up untuk melihat keberhasilan proses dan hasil pelaksanaan supervisi. Tindak lanjut tsb dapat berupa evaluasi kegiatan supervisi guna mengevaluasi, menelaah dan mempelajari faktor keberhasilan maupun kegagalan proses dan hasil pelaksanaan supervisi yang kesemuanya dilakukan secara kolaboratif dan komprehensif.

Ketiga tahapan di atas saling berhubungan erat satu dengan lainnya. Tanpa adanya perencanaan yang baik dan terarah, pelaksanaan supervisi dikhawatirkan justru berjalan tanpa pedoman yang jelas. Di sisi lain, kita tidak dapat menelaah secara tuntas tingkat keberhasilan proses maupun outcome supervisi apabila dalam kegiatan supervisi tidak menyertakan evaluasi terhadap kegiatan yang sudah diprogramkan.

Dengan demikian, pendekatan kolaboratif yang bersifat holistik dan komprehensif sudah semestinya mensyaratkan sebuah model supervisi yang melibatkan seluruh kegiatan dimulai dari mulai perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi.

Perlu menjadi catatan bahwa sebelum memulai pelaksanaan supervisi, antara pengawas dan kepala sekolah hendaknya secara bersama-sama membangun visi dan misi yang sejalan, dan merumuskan konsep dan strategi yang sinkron untuk mencapai sebuah model supervisi yang menjadi keinginan dan harapan bersama.

Kedua pihak diharapkan secara terbuka dan transparan, merumuskan kegiatan supervisi pada setiap tahapan dalam rangka menetapkan strategi, instrumen, kriteria dan indikator setiap tahapan yang berpedoman kepada peraturan dan petunjuk yang ada tanpa mengesampingkan dinamika, peluang dan tantangan yang dihadapi.

Sebagai contoh pada tahap perencanaan, timbul pertanyaan apakah yang dimaksud dengan kelebihan, kekurangan, peluang, dan ancaman kegiatan pembelajaran? Apakah kriteria dan indikator untuk menilai kekurangan dan kelebihan seorang guru dalam mengajar?

Hal-hal tersebut di atas dan lain-lain yang serupa, hendaknya telah diupayakan memperoleh  jawaban yang sinkron antara pengawas dan kepala sekolah agar nantinya tidak terjadi bias penilaian yang dapat mempengaruhi pembinaan, pengembangan dan evaluasi kegiatan supervisi di masa mendatang. Di sini dituntut kepiawaian kedua belah pihak dalam  bermusyawarah, bernegosiasi, dan memecahkan masalah, dimana ketiga hal tsb memang telah menjadi tugas utama dan ciri-ciri seorang supervisor.

Yang dimaksud berimbang adalah, dalam setiap kegiatan supervisi kolaboratif ini, keterlibatan dan kontribusi kedua belah pihak didasarkan atas pembagian tugas yang adil dan saling melengkapi satu dengan yang lain. Dengan pembagian wewenang yang adil dan berimbang akan memunculkan kesadaran dan tanggung jawab kedua belah pihak sehingga dapat meminimalisasi kecurigaan dan kesalah pahaman yang mungkin terjadi, dan pada gilirannya akan menumbuhkan sinergi dan kerjasama yang semakin kuat.

Sehingga dalam pelaksanaannya, aspek-aspek tertentu yang menjadi spesialisasi penilaian supervisor seperti misalnya administratif dan manajemen sekolah, diberikan keleluasaan kepada supervisor untuk melaksanakan penilaian. Sementara pada aspek pembinaan guru dan supervisi akademik/klinis menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan keterlibatan supervisor dalam aspek ini menjadi tidak terlalu dibutuhkan.

Advertisements