Q : Apabila supervisi kolaborasi ini dapat dilaksanakan, apakah pembinaan sebagai tindak lanjut supervisi juga dapat dilaksanakan secara berkolaborasi?

A : Para guru perlu mendapatkan pembinaan guna meningkatkan profesionalismenya. Pembinaan adalah salah satu tindak lanjut nyata dari supervisi. Perlunya pembinaan secara berkelanjutan didasari kenyataan bahwa perkembangan profesi guru dibandingkan dengan perkembangan ilmu dan teknologi tidaklah berimbang. Perkembangan ilmu dan teknologi di bidang pendidikan lebih cepat dibandingkan dengan perkembangan profesi yang dimiliki oleh guru pada umumnya.

Sebagai langkah antisipasi agar perkembangan profesi guru tidak jauh tertinggal oleh pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka salah satu cara yang dapat ditempuh oleh supervisor adalah dengan menyelenggarakan suatu kegiatan pembinaan. Sebagaimana halnya kegiatan supervisi, maka pembinaan tsb diupayakan untuk dapat dilaksanakan secara kolaboratif, melibatkan pengawas dan kepala sekolah.

Dalam pelaksanaannya, pembinaan akan terasa lebih mudah, dimana guru pada tahap sebelumnya telah memperoleh supervisi secara intensif. Tinggal kemudian bagaimana langkah supervisor didalam menindak lanjuti dan memanfaatkan hasil-hasil supervisi yang antara lain dapat dijadikan pedoman guna menentukan arah dan strategi pembinaan selanjutnya.

Pembinaan adalah follow up nyata dari kegiatan supervisi yang dilaksanakan segera setelah tahapan supervisi berakhir. Pembinaan diperkirakan memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini berbeda dengan kegiatan supervisi yang hanya bersifat temporer. Pada prinsipnya kegiatan pembinaan terintegrasi dan melekat dalam setiap tugas pokok penyelenggaraan pendidikan. Dalam kaitannya dengan hal tsb, kepala sekolah diharapkan lebih berperan aktif dalam mengoptimalkan kegiatan pembinaan di tempat tugasnya masing-masing.

Pengawas yang berasal dari luar sekolah tidak dapat terjun setiap saat mendampingi aktivitas guru di kelas. Pengawas juga tidak mungkin terus menerus berada di satu sekolah, mengingat seorang pengawas memiliki tanggung jawab melaksanakan supervisi di sekolah-sekolah yang lain. Durasi pembinaan kolaboratif yang berjangka panjang dan terbatas di lingkungan kerja satuan pendidikan masing-masing, sehingga tugas dan keterlibatan pengawas cukup dilaksanakan secara berkala. Kendati demikian seorang pengawas dituntut tetap selalu tanggap dan siap apabila dimintai bantuan.

Pembinaan kolaboratif antara kepala sekolah dan pengawas dapat dilaksanakan secara konsultatif. Berbagai kendala yang ditemui di lapangan kemudian dikonsultasikan oleh kedua belah pihak. Selanjutnya supervisor dapat memberikan kontribusinya dalam berbagai cara guna membantu dan memberikan pelayanan kepada guru. Kepala Sekolah diharapkan untuk terus menjaga hubungan profesional dengan pengawas. Hal tsb dirasa penting, mengingat peran pengawas masih sangat diperlukan meskipun tidak seintensif seperti sebelumnya.

Ada tiga aspek pembinaan guru yaitu pengembangan pribadi, kompetensi dan sosial. Pembinaan terhadap guru dapat dilakukan secara preventif dan kuratif. Secara preventif dengan cara menciptakan hubungan personal yang akrab, harmonis dan bersahabat. Juga dilakukan dengan cara membantu dan membimbing para guru untuk dapat menciptakan kondisi belajar dan proses belajar yang baru dan efektif.

Dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan di satuan pendidikan masing-masing, peran kepala sekolah hendaknya dapat lebih diberdayakan. Hal ini mengingat tugas, kewenangan dan tanggung jawabnya sebagai salah satu unsur penting dalam sistem sekolah. Diantara peran yang dapat dimainkan secara optimal oleh Kepala Sekolah adalah meningkatkan hubungan personal dengan para guru yang sudah terjalin akrab sehingga akan terbentuk kepribadian guru yang berkarakter didalam menjalankan setiap tugasnya dan terwujud interaksi sosial yang harmonis diantara seluruh komponen pelaku pendidikan.

Dalam rangka meningkatkan kinerja dan profesionalisme guru, pengawas dapat memberikan bantuan dan layanan teknis yang spesifik kepada guru.Di sisi lain, efektifitas model pembelajaran sebagai hasil pembinaan yang didalamnya mencakup peningkatan profesionalisme tenaga pendidik memerlukan waktu yang tidak pendek, hingga pada akhirnya terwujud sebuah metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan siswa.

Pembinaan kuratif pada dasarnya adalah memperbaiki hal-hal yang kurang menarik yang terjadi pada guru. Dengan memperhatikan dan menganalisis berbagai hasil temuan supervisi, selanjutnya dapat diidentifikasi kelemahan dan kekurangan yang ada pada guru. Kelemahan tersebut dapat berasal dari faktor internal maupun eksternal. Dengan memahami hal tersebut, kita akan mengerti bahwa sumber permasalahan sesungguhnya tidak hanya terletak pada personal guru saja namun saling terkait dengan penyebab yang lain.

Kelemahan yang ada bukan diskenariokan sebagai temuan untuk menyudutkan atau mendiskreditkan guru, namun dijadikan sebagai masukan dan bahan evaluasi yang sangat berharga demi perbaikan di masa mendatang. kelemahan-kelemahan tsb hendaknya tidak diekspos secara vulgar/terang-terangan di depan guru karena hal ini justru menimbulkan kesan negatif. Sebaliknya penyampaian sisi-sisi kelemahan yang ada pada guru tsb dapat diberikan dalam bentuk dorongan moral yang konstruktif yang akan meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri mereka.

Advertisements