Home

Syntax Metode Discovery Learning

Leave a comment

discovery-learning

Source: https://kurikulum2013kelas6.wordpress.com/2015/07/04/model-model-pembelajaran-dalam-k-13/

Syntax atau dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan istilah Sintaks merupakan langkah-langkah operasional pembelajaran yang disusun sebagai petunjuk atau pedoman pada saat mengajar. Sintak pada tiap model pembelajaran tidaklah sama, bergantung pada model yang digunakan saat proses belajar mengajar. Sintaks atau urutan/tahapan-tahapan kegiatan belajar diistilahkan dengan fase yang menggambarkan bagaimana model tersebut bekerja dalam prakteknya, misalnya bagaimana memulai pelajaran, bagaimana memfasilitasi peserta didik dalam menggunakan sumber belajar. Jadi sintaks adalah deskripsi model atau metode pembelajaran dalam suatu tindakan proses pembelajaran. Setiap model pembelajaran mempunyai sintaks atau struktur model yang berbeda-beda (Joyce & Weil, 1982).

Sebagai contoh, dengan mengacu pada prosedur aplikasi pengembangan metode pembelajaran Discovery Learning dengan perangkat Mobile Data Logging maka tenaga pengajar yang akan terjun ke satuan pendidikan guna melaksanakan proses pembelajaran dengan menerapkan metode pembelajaran Discovery Learning yang dalam implementasinya tentu saja akan berinteraksi dengan peserta didik dalam rangka membangun konsep pembelajaran penemuan yang terarah dan terencana secara matang, maka tenaga pengajar dapat merancang sebuah sintaks pembelajaran yang akan dijadikan sebagai pedoman operasional pada saat pelaksanaan pembelajaran di kelas dan sebagai kerangka acuan penyusunan RPP pembelajaran. Sintaks terbagi ke dalam dua bagian menurut subjeknya yaitu kegiatan pembelajaran oleh guru dan kegiatan pembelajaran siswa.

Dalam tindakan pembelajaran ini guru lebih diarahkan untuk dapat mengoptimalkan perannya sebagai mentor, pembimbing atau fasilitator dalam rangka membimbing siswa melaksanakan pembelajaran secara mandiri dalam setting pembelajaran penemuan (discovery). Sintaks dalam metode pembelajaran Discovery Learning dengan Perangkat Mobile Data Logging terdiri dari enam urutan langkah pokok sebagai berikut: 1) Stimulation (Stimulasi), 2) Problem Statement (Perumusan Masalah), 3) Data Collection (Pengumpulan Data), 4) Data Processing (Pengolahan Data), 5) Verification (Pembuktian), dan 6) Generalization (Penarikan Kesimpulan). Sedangkan pemanfaatan perangkat TIK guna mengembangkan metode pembelajaran Discovery Learning dalam penelitian ini meliputi aplikasi tiga media pembelajaran berbasis teknologi yaitu: 1) Mobile Data Logging, 2) Mobile Data Sharing, dan 3) Graphical Analysis App.

Referensi:

Joyce, B. & Weil, M. 1982. Model of Teachings. New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Metode Penelitian Pengembangan Pendidikan

Leave a comment

borg-n-gall

Sumber: http://berbahasa-bersastra.blogspot.co.id/2011/10/metode-penelitian-research-and.html

Salah satu metode penelitian yang akhir-akhir ini semakin marak diimplementasikan dalam rangka mengembangkan sistem pembelajaran dan dunia pendidikan, adalah penelitian pengembangan (Research and Development). Menurut Borg & Gall (1989) “Educational Research and Development (R & D) is a process used to develop and validate educational products. The steps of this process are usually referred to as the R & D cycle, which consists of studying research findings pertinent to the product to be developed, developing the product based on the finding, field testing it in the setting where it will be used eventually, and revising it to correct the deficiencies found in the field testing stage. It’s indicate that product meets its behaviorally defined objectives”.

Penelitian pengembangan pendidikan adalah suatu proses untuk mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan. Langkah-langkah dalam proses ini pada umumnya mengacu pada siklus penelitian dan pengembangan, yang terdiri dari studi terhadap temuan penelitian terkait produk yang akan dikembangkan, mengembangkan produk berdasarkan temuan sebelumnya, ujicoba lapangan pada setting atau situasi dimana produk tersebut nantinya digunakan, dan melakukan revisi guna memperbaiki kekurangan. Hal ini mengindikasikan bahwa produk yang dihasilkan telah memenuhi tujuan yang telah ditetapkan.

Penelitian pengembangan dimaksudkan guna memecahkan masalah praktis dalam dunia pendidikan, masalah di kelas yang dihadapi dosen atau guru. Penelitian bukan untuk menguji teori atau hipotesis, namun menguji dan menyempurnakan produk. Yang dimaksud dengan produk dalam konteks ini tidak selalu berbentuk hardware (buku, modul, alat bantu pembelajaran di kelas dan laboratorium), tetapi bisa juga software (perangkat lunak) seperti program pengolah data dan pendukung pembelajaran, ataupun model-model pembelajaran, pelatihan, bimbingan, evaluasi, manajemen, dan lain sebagainya. Metode penelitian pengembangan dipilih untuk memenuhi kebutuhan penelitian yang menghendaki proses pengembangan dan pengumpulan data dalam berbagai aspek. Selain itu metode ini sangat menunjang terlaksananya pengembangan metode pembelajaran.

Referensi:

Borg, W. R. & Gall, M. D. 1989. Educational Research: an Introduction; 5th Edition. White Plains, New York: Longman.

Fisika, Ilmu Pengetahuan yang Paling Fundamental

Leave a comment

slide_2

Source: http://slideplayer.com/slide/4183542/

Fisika adalah salah satu ilmu dasar dalam rumpun Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Kamus online Merriam-Webster (2016) mendefinisikan fisika sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari materi dan energi dan bagaimana keduanya berinteraksi dalam wujud panas, cahaya, gejala kelistrikan dan suara. Tipler (2001) menambahkan bahwa fisika berhubungan dengan materi dan energi, hukum-hukum yang mengatur gerakan partikel dan gelombang, interaksi antarpartikel, sifat-sifat molekul, atom dan inti atom, dan sistem-sistem berskala lebih besar seperti gas, zat cair, dan zat padat.

Beberapa orang menganggap fisika sebagai sains atau ilmu pengetahuan yang paling fundamental karena merupakan dasar dari semua bidang sains yang lain. Menurut Young & Freedman (2002), fisika adalah ilmu eksperimental. Fisikawan mengamati fenomena alam serta berupaya mempelajari dan menemukan pola dan prinsip yang menghubungkan fenomena tersebut. Fisika juga merupakan dasar dari semua ilmu rekayasa dan teknologi.

Ilmu fisika diperoleh dari menggali, mencermati dan mengobservasi fenomena alam. Berbagai fenomena yang terhampar di seluruh penjuru alam semesta secara ilmiah diselidiki prinsip-prinsip, pola-pola dasar, keterkaitan dan keterhubungan diantara fenomena-fenomena tersebut. Mempelajari fisika tidak dapat dipisahkan dari aktifitas mengamati alam sekitar. Siswa perlu dilatih sejak dini untuk bersikap dan bertindak ilmiah terhadap lingkungan tempat mereka berada. Sikap ilmiah yang tertanam kuat dalam benak peserta didik pada gilirannya akan membentuk kepribadian harmonis yang logis, rasionalis, analitis, dan objektif dalam menyikapi segala fenomena alam dan kehidupan.

Referensi:

Merriam-Webster Online Dictionary. 2016. http://www.merriam-webster.com/dictionary.

Tipler, P. A. 1991. Physics for Scientists and Engineers, Third Edition. Worth Publisher, Inc. Alih Bahasa Prasetio, L., Adi, R. W., Sutrisno, J., Soegijono, B., Hardani, W. 2001. Fisika untuk Sains dan Teknik Jilid 1 dan Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Young, H. D. & Freedman, R. A. 2000. University Physics; Tenth Edition. Addison Wesley Longman Inc. Alih Bahasa Juliastuti, E. 2002. Fisika Universitas/Edisi Kesepuluh/Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Makna Pembelajaran

Leave a comment

s-l300

Source: http://www.ebay.com/itm/NEW-The-Meaning-of-Learning-and-Knowing-by-Erik-Jan-Van-Rossum-Hardcover-Book-E-/361464611740

Van Rossum & Hamer (2010) dalam buku berjudul “The Meaning of Learning and Knowing” mengungkapkan pandangan Pratt (1992) yang menyatakan bahwa cara pandang peserta didik terhadap konsep pembelajaran memegang peranan penting dalam membentuk perilaku belajar peserta didik. Hal ini karena menurut Pratt, seorang pembelajar memandang dan memahami lingkungan sekitarnya melalui lensa konsepsi yang dibentuknya sendiri, lalu menginterpretasi dan mengambil tindakan berdasarkan pemahaman atas lingkungan sekitarnya itu.

Saljo (1979) dalam Van Rossum & Hamer (2010) dan Scales (2013) melakukan sebuah penelitian mengenai konsepsi pembelajaran dari sudut pandang peserta didik. Dari hasil penelitian tersebut Saljo kemudian mengklasifikasikan lima kategori konsepsi pembelajaran sebagai berikut:

1.Learning as the increase of knowledge
Pembelajaran sebagai proses bertambahnya pengetahuan. Proses pembelajaran berkaitan dengan aktivitas mengumpulkan pengetahuan, dan hasilnya adalah kumpulan pengetahuan yang terpisah-pisah (fragmentary pieces of knowledge).

2.Learning as memorizing
Pembelajaran sebagai aktivitas mengingat. Pembelajaran dimaknai sebagai aktivitas mengingat berikut kemampuan mereproduksi pengetahuan dalam bentuk ingatan. Pembelajaran dengan teknik mengingat biasanya cukup berguna pada situasi menjelang tes sekolah.

3.Learning as the acquisition of facts, procedures etcetera, which can be retained and/or utilised in practice
Pembelajaran sebagai aktivitas memperoleh fakta, prosedur, dan sejenisnya. Pengetahuan yang diperoleh dari aktivitas pembelajaran ini dapat terus disimpan dalam ingatan seorang pembelajar atau juga bisa diterapkan dalam praktik sehari-hari.

4.Learning as the abstraction of meaning
Pembelajaran sebagai aktivitas menggeneralisasi konsep menjadi bentuk yang lebih konkret. Fokus pembelajaran beralih dari mengambil sesuatu yang sudah jadi (misalnya fakta atau prosedur kerja) menuju ke rekonstruksi makna.

5.Learning as an interpretative process aimed at the understanding of reality
Pembelajaran sebagai proses interpretatif yang bertujuan untuk memahami hakikat/realitas. Outcome proses pembelajaran ini adalah kemampuan melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, pandangan dunia (world view) yang khas, serta kemampuan menafsirkan realitas yang relevan dengan situasi dan kondisi, bersifat personal dan kontekstual.

Referensi:

Van Rossum, E. J. & Hamer, R. 2010. The Meaning of Learning and Knowing. Rotterdam: Sense Publisers.

Tahapan Model ADDIE

Leave a comment

Menurut McGriff (2000) model pengembangan ADDIE dalam proses pembelajaran dapat diejawantahkan melalui suatu pendekatan sistematis yang dikenal dengan istilah: Desain Sistem Instruksional (Instructional System Design). Adapun tujuan desain instruksional pembelajaran adalah menciptakan kondisi pembelajaran yang berpusat pada siswa, dengan tujuan agar proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif, alih-alih menerapkan metode konvensional yang berpusat pada guru. Hal ini berarti bahwa setiap komponen instruksional pembelajaran sangat terkait erat dengan outcomes pembelajaran itu sendiri, yang dirumuskan sebelumnya melalui analisis yang mendalam akan kebutuhan peserta didik dalam kegiatan belajarnya.

Langkah-langkah model pengembangan ADDIE terdiri dari dua komponen utama yaitu:

1) tugas/kegiatan (sample tasks)

2) hasil (sample output),

selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel ADDIE

Sumber: McGriff (2000)

Referensi:

McGriff, S. J. 2000. Instructional System Design (ISD): Using the ADDIE Model.

https://www.lib.purdue.edu/sites/default/files/directory/butler38/ADDIE.pdf

Teori Konstruktivisme dan Keterampilan Proses Sains

Leave a comment

slide_1

Sumber: http://slideplayer.com/slide/6817126/

Dalam pendekatan saintifik pembelajaran, guru membimbing siswa dalam kegiatan belajarnya secara mandiri sehingga melalui proses ini lambat laun akan membentuk karakter saintifik dan keterampilan proses sains yang tertanam kuat dalam diri siswa. Menurut Bybee & DeBoer (1993) yang dikutip oleh Ozgelen (2012): science process skills atau keterampilan  proses sains adalah keterampilan berpikir yang dipraktikkan oleh para ilmuwan (scientist) dalam mengkonstruksi pengetahuan yang bertujuan untuk memecahkan masalah dan merumuskan hasil. Metode ilmiah, berpikir saintifik, dan berpikir kritis juga merupakan istilah-istilah yang digunakan untuk merujuk pada pengertian keterampilan proses sains.  Sungguh pun demikian, pada dua dasawarsa terakhir istilah “science process skills” (keterampilan proses sains) lebih sering digunakan.

Dimyati & Mudjiono (2009) mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan pendekatan keterampilan proses sains adalah wawasan atau anutan pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya telah ada dalam diri siswa. Dimyati & Mudjiono menyebutkan dua jenis keterampilan proses sains yaitu keterampilan dasar dan keterampilan terintegrasi. Keterampilan dasar meliputi enam keterampilan, yakni: mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan, mengkomunikasikan. Sedangkan keterampilan terintegrasi terdiri atas: mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan hubungan antar variabel, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisis penelitian, menyusun hipotesis, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian dan melaksanakan eksperimen. Pendekatan saintifik pembelajaran dengan keterampilan proses sains memiliki hubungan yang erat, dimana proses pembelajaran saintifik sangat menekankan pentingnya siswa belajar secara aktif, mandiri, dan konstruktif yang pada akhirnya bermuara pada penguasaan keterampilan proses sains sebagaimana disebutkan di atas.

Teori konstruktivisme dalam pembelajaran memandang bahwa peserta didik mengkonstruksi kegiatan belajar dan mentransformasikan berbagai informasi kompleks untuk membangun pengetahuan secara mandiri. Pada prinsipnya, teori ini menekankan bahwa pengetahuan dikonstruksi sendiri oleh seorang pembelajar, alih-alih menerima mentah-mentah segala macam informasi dari luar. Sebagai contoh, pengetahuan tidak terletak pada fisik sebuah buku namun diperoleh dengan cara membaca buku tersebut (Lowenthal & Muth dalam Provenzo Jr., 2008). Dengan memahami hal tersebut maka bagi peserta didik kegiatan belajar akan menjadi lebih bermakna (meaningful learning) dan bukan sekedar hafalan.

Sejalan dengan pendekatan saintifik, salah satu ciri teori konstruktivisme adalah memfokuskan kegiatan pada proses belajar. Penilaian hasil belajar lebih menekankan pada kinerja dan pemahaman siswa. Hasil belajar sebagai tujuan memang dinilai penting, namun proses yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar juga tidak kalah penting. Tenenbaum et al. (2010) menyarankan bahwa pembentukan jiwa konstruktivis dalam diri peserta didik akan mencapai keberhasilan jika pada tahapan pembelajaran sebelumnya telah ada persiapan yang memadai, disertai bimbingan maupun pendampingan oleh guru. Terjadinya penemuan (discovery) hanya dimungkinkan jika peserta didik memiliki pemahaman dan keterampilan awal mengenai domain pengetahuan yang sedang dipelajarinya (Tenenbaum et al., 2010).

Referensi:

Dimyati & Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Ozgelen, S. 2012. Students’ Science Process Skills within a Cognitive Domain Framework. Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 8 (4), 2012, pp. 283 – 292.

Provenzo Jr., E. F. 2008. Encyclopedia of the Social and Cultural Foundations of Education. Thousand Oaks, California: Sage.

Tenenbaum, H. R. et al. 2010. Does Discovery-Based Instruction Enhance Learning? Journal of Educational Psychology, vol. 103 no. 1, pp. 1 – 18.

Pendekatan Saintifik Pembelajaran dan Hands-Minds on Activities

Leave a comment

1391876862-3

Sumber: https://www.iat.com/courses/high-school-science/astrobiology/?type=approach

Pada umumnya, metode pembelajaran konvensional sangat menitik beratkan hanya pada satu aspek pengembangan pembelajaran saja yakni ranah kognitif siswa. Kenyataan tersebut sekiranya perlu diimbangi dengan memperhatikan pengembangan aspek lainnya melalui pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran itu sendiri. Timbul pertanyaan, pendekatan pembelajaran seperti apakah yang sesuai guna mengembangkan; disamping ranah kognitif juga sekaligus ranah afektif dan psikomotik peserta didik? Menurut Nasution (2013) dalam Prahastiwi et al. (2014), pendekatan saintifik pembelajaran dipandang paling baik diimplementasikan dalam rangka mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik. Senada dengan pernyataan tersebut, pendekatan saintifik tidak hanya memandang hasil belajar sebagai muara akhir, namun proses pembelajaran juga dipandang sangat penting (Nulfida, 2014).

Pendekatan saintifik pembelajaran dapat digunakan sebagai cara yang handal guna mengasah sikap, karakter dan keterampilan proses sains siswa. Dalam pendekatan saintifik pembelajaran, siswa mengeksplorasi dan mengelaborasi teori, prinsip atau konsep fisika yang diperoleh dari pengalaman langsung (first-hand experiences). Alih-alih memenuhi otak siswa dengan rumus-rumus fisika atau abstraksi matematis yang sukar dipahami, siswa diajak untuk mengamati dan melakukan percobaan ilmiah sendiri dan pada akhirnya dapat menarik kesimpulan dengan benar atas eksperimentasi gejala fisis yang disodorkan kepadanya. Proses pembelajaran tersebut dapat melalui berbagai kegiatan belajar yang memberikan pengalaman langsung kepada siswa seperti misalnya eksperimentasi, praktikum atau percobaan di laboratorium. Karena dengan kegiatan pembelajaran yang bersifat hands-on dan minds-on activities, siswa akan terasah keterampilan berpikir (kognitif) dan keterampilan olah kerja tangan (psikomotorik) sehingga keduanya menjadi seimbang. Hal senada diungkapkan oleh Buxton (2002) dalam Ningrum (2014) bahwa pembelajaran saat ini masih menekankan pada abstract conceptualization dan kurang mengembangkan active experimentation, padahal seharusnya keduanya seimbang dan proporsional sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar dan dapat membangun konsep mereka sendiri.

Pendekatan saintifik pembelajaran menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran (student centered). Siswa aktif membangun sendiri konsep dan mengkonstruksi pengetahuan. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari kepala guru ke kepala siswa tanpa siswa itu sendiri berupaya membangun makna pengalaman pembelajaran yang diikutinya. Dengan demikian maka melalui pendekatan saintifik pembelajaran, pengembangan kemampuan berpikir abstrak pada ranah kognitif akan dapat diimbangi secara simultan dengan pengembangan ranah afektif dan psikomotorik yang selama ini belum banyak disentuh oleh pendekatan konvensional. Dengan melengkapi ketiga aspek tersebut, diharapkan tujuan penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dikemukakan oleh Charles E. Silberman  dalam Sagala (2009) yang dikutip oleh Setiono et al. (2012) akan tercapai, atau sekurang-kurangnya mendekati kondisi ideal.

Referensi:

Ningrum, A. M. Y. 2014. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berpendekatan CTL Berbantuan Modul Hands-Minds on Activity. Jurnal Chemistry in Education, 3 (2) (2014), hal. 118 – 125

Nulfida, M. I. 2014. Implementasi Pendekatan Saintifik dan Karakter dalam Pembelajaran Sains Menyongsong Generasi Emas Indonesia. Prosiding Pendidikan Sains FKIP UNS. Seminar Nasional Pendidikan Sains IV (SNPS 2014), vol. 1 no. 1, 2014.

Prahastiwi, R. B. et al. 2014. Penerapan Pendekatan Saintifik untuk Meningkatkan Karakter Rasa Ingin Tahu dan Prestasi Belajar Siswa Kelas X MIA 3 SMA Negeri 6 Malang. Jurnal Online Universitas Negeri Malang, vol. 3 no. 1, 2014.

Setiono, E. F. et al. 2012. Problem Based Learning dalam Pembelajaran Fisika Menggunakan Simulation Based Laboratory (SBL) dan Video Based Laboratory (VBL). Jurnal Materi dan Pembelajaran Fisika, vol. 2 (2012), hal. 25 – 36.

Older Entries