Home

Perbedaan Supervisi Makro dan Mikro

Diuraikan secara singkat perbedaan antara Supervisi Makro dan Supervisi Mikro sebagai berikut:

Supervisi makro adalah supervisi pengajaran, yang merupakan rangkaian kegiatan pengawasan pendidikan yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi-kondisi, baik personil maupun material yang memungkinkan terciptanya situasi belajar mengajar yang lebih baik demi tercapainya tujuan pendidikan. Dalam prakteknya supervisi makro menggunakan pendekatan ilmiah dengan ciri-ciri:

  1. Dilaksanakan secara berencana dan kontinu
  2. Sistematis dan menggunakan prosedur dan teknik tertentu
  3. Menggunakan instrumen pengumpulan data
  4. Ada data objektif yang diperoleh dari keadaan yang riil

Kegiatan supervisi pengajaran merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan dalam penyelenggaraan pendidikan.Kegiatan supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah dalam memberikan pembinaan kepada guru. Hal tersebut karena proses belajar-mengajar yang dilaksakan guru merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan.

Sedangkan supervisi mikro sering dikenal pula dengan istilah supervisi klinis yakni supervisi yang diangkat dari model hubungan” dokter-pasien, sehingga di dalamnya terdapat diagnosis-terapi dalam melaksanakan supervisi pembelajaran.Supervisi Klinis memfokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sistematik dalam perencanaan, pengamatan, serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata, serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara yang rasional.

Adapun contoh aktifitas supervisi makro dan mikro di dalam sistem persekolahan antara lain sebagai berikut:

  1. Supervisi Makro

Salah satu contoh supervisi makro, mengacu kepada Buku Pedoman Supervisi yang dikeluarkan oleh Depdikbud (1986) adalah kunjungan kelas (classroom visitation).Yang dimaksud dengan kunjungan kelas adalah kegiatan supervisi yang dilakukan oleh Kepala Sekolah pada saat guru sedang mengajar di kelas. Menurut Mark (1985) yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam kunjungan kelas adalah sebagai berikut:

  1. Memfokuskan seluruh perhatian pada semua elemen dan situasi belajar mengajar di dalam kelas yang bersangkutan.
  2. Membantu guru-guru secara konkret untuk memajukan proses belajar mengajar.
  3. Menolong guru-guru agar dapat mengevaluasi diri sendiri.
  4. Memberikan kebebasan kepada guru-guru agar dapat berdiskusi dengannya mengenai problema-problema yang dihadapinya dalam proses belajar mengajar mereka.

Kunjungan kelas dapat dilaksanakan dengan pemberitahuan terlebih dahulu dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.Kunjungan kelas dapat dimulai atas inisiatif supervisor sendiri (Kepala Sekolah) atau atas undangan guru.Saat kegiatan supervisi berlangsung, kepala sekolah menggunakan lembar observasi yang sudah dibakukan, yakni Alat Penilaian Kemampuan Guru (APG).APKG terdiri atas APKG 1 (untuk menilai Rencana Pembelajaran yang dibuat guru) dan APKG 2 (untuk menilai pelaksanaan proses pembelajaran) yang dilakukan guru.

  1. Supervisi Mikro

Supervisi klinis merupakan strategi yang cukup efektif dalam perbaikan pengajaran.Walaupun aspek tujuan supervisi klinis menjadi perhatian utama, namun tidak seperti supervisi makro yang terkesan hubungan kaku antara atasan (supervisor) menginspeksi bawahan (supervisee), supervisi klinis menunjukkancorak humanisme dimana terjadi kedekatan personal antara supervisor dan supervisee.Hal ini dapat diimplementasikan dengan menciptakan situasi kegiatan supervisi dalam suasana terbuka secara tatap muka.Perbedaan lainnya adalah bahwa dalam supervisi mikro, supervisee diperlakukan dengan mengedepankan pendekatan kesejawatan yang egaliter dimana supervisor lebih banyak mendengarkan serta menjawab pertanyaan guru daripada memberi saran atau pengarahan.

Adapun contoh supervisi klinis dalam aktifitas sekolah yaitu supervisi kegiatan belajar mengajar guru (supervisee) mengkonsultasikan kendala dan permasalahan yang dihadapi kepada supervisor. Supervisi klinis berangkat dari cara pandang kedokteran, yaitu untuk mengobati penyakit, harus terlebih dahulu diketahui apa penyakitnya. Inilah yang harus dilakukan oleh supervisor terhadap guru apabila ia hendak membantu meningkatkan kualitas pembelajaran mereka.Guru layaknya “pasien” mendatangi “dokter” setidaknya mampu merasakan apa saja keluhan dan permasalahan ketika melaksanakan kegiatan belajar mengajar khususnya yang berasal dari dirinya. Selanjutnya guru dengan inisiatif sendiri meminta bantuan kepada supervisor. Dengan banyak mendengarkan keluhan supervisee dan berdiskusi dengannya, supervisor akan dapat secara cermat mendiagnosa permasalahguru tersebut untuk kemudian bersama-sama mencari cara pemecahan permasalahan tersebut.

Secara garis besar supervisi klinis sedikitnya memiliki tiga tahap, yakni pertemuan awal, pengamatan dan umpan balik.Penjabaran tahapan Supervisi klinis dapat dilaksanakan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut: (a) pra observasi, yang berisi pembicaraan dan kesepakatan antara supervisor dengan guru mengenai apa yang akan diamati dan diperbaiki dari pengajaran yang dilakukan, (b) observasi, yaitu supervisor mengamati guru dalam mengajar sesuai dengan fokus yang telah disepakati, (c) analisis, dilakukan secara bersamasama oleh supervisor dengan guru terhadap hasil pengamatan, dan (d) perumusan langkah-langkah perbaikan, dan pembuatan rencana untuk perbaikan/umpan balik (feed back).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: