ausubel banner

David Ausubel was a cognitive learning theorist who focused on the learning of school subjects and who placed considerable interest on what the student already knows as being the primary determiner of whether and what he/she learns next. Ausubel viewed learning as an active process, not simply responding to your environment. Learners seek to make sense of their surroundings by integrating new knowledge with that which they have already learned.

David Ausubel adalah pakar teori pembelajaran kognitif. Beliau memfokuskan kajian pada bagaimana siswa mempelajari subjek/mata pelajaran di sekolah. Dalam teorinya beliau memberikan penekanan penting, bahwa pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa adalah penentu utama apa yang akan dipelajari berikutnya.

Ausubel memandang bahwa kegiatan belajar adalah sebuah proses aktif, tidak sekadar merespons lingkungan belajar di sekitarnya. Peserta didik berusaha mencari hubungan logis (masuk akal) dalam lingkungan belajar di sekelilingnya dengan cara menggabungkan pengetahuan baru dengan apa yang sudah mereka pelajari sebelumnya.

Ausubel was leery of the research on learning done in labs often using stimuli that were not typical of school subjects. For example, at the time Ausubel was writing a large amount of the research on learning involved having students memorize non-sense terms such as “sdrgp” or paired associates such as “table-banana” since these were likely new and unfamiliar to learners.

Ausubel kurang mempercayai penelitian pembelajaran di laboratorium yang kerap menggunakan stimulus yang tidak berhubungan dengan subjek/mata pelajaran. Sebagai contoh, pada waktu Ausubel menuliskan penelitiannya, telah terdapat metode pembelajaran yang melibatkan penggunaan memori, dimana siswa disuruh mengingat kembali istilah-istilah asing yang tidak masuk akal seperti “sdrgp” maupun istilah asosiatif untuk menjelaskan hubungan berpasangan seperti misalnya “meja-pisang”. Ausubel menganggap istilah/asosiasi tersebut sesuatu yang baru dan tidak akrab di telinga peserta didik.

For Ausubel this was simply rote learning that remained isolated from other knowledge the learner had acquired. It was not potentially meaningful while schools subjects were potentially meaningful. Rote learning was unlike the learning of school subjects, so Ausubel sought to study how we learn content, like school subjects, that is potentially meaningful. He wrote often about “meaningful learning” and this is why he rejected the research on rote learning as appropriate if we want to improve learning in schools.

Bagi Ausubel, penggunaan memori dalam pembelajaran seperti telah dikemukakan di atas, tidak lebih dari apa yang disebut beliau sebagai rote learning (pembelajaran hapalan) yaitu pembelajaran yang hanya bertujuan agar siswa mengucapkan kembali apa yang ada dalam ingatannya alih-alih sebuah metode pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk memahami materi yang dipelajari.

Rote learning menjadikan siswa justru terisolasi untuk mengakses pengetahuan lain yang telah ada dalam dirinya. Pembelajaran menjadi aktifitas yang tidak bermakna karena peserta didik seakan tercerabut dari pengalamannya sendiri. Peserta didik hanya menghafalkan saja lalu mengucapkan kembali apa yang diingatnya namun jauh di dalam struktur kognitif peserta didik tidak memahami substansi materi pembelajaran.

Hafalan  tidak akan bertahan lama di benak para siswa dan tidak dapat membantu mengkonstruksi pengetahuan baru, dimana menurut Ausubel pengetahuan baru hanya dapat diperoleh dari penggabungan pengetahuan lama yang telah dipahami sebelumnya dengan pengalaman yang baru. Di sisi lain, mata pelajaran adalah sesuatu yang amat bermakna dan berharga bagi masa depan peserta didik.

Rote learning (pembelajaran hapalan) dipandang kurang efektif untuk diterapkan di sekolah. Menyadari akan hal ini, Ausubel kemudian berupaya mencari dan mempelajari bagaimana manusia pembelajar melakukan aktifitas belajar, dan bagaimana peserta didik memahami materi pelajaran. Ausubel ingin menciptakan sebuah metode pembelajaran dimana aktifitas belajar menjadi sesuatu yang bermakna bagi setiap pelaku pembelajaran.

Ausubel dalam banyak tulisannya sering menggunakan istilah “meaningful learning” atau pembelajaran bermakna. Efektifitas pembelajaran bermakna telah membuat Ausubel menolak model pembelajaran hapalan (rote learning). Hal tsb lebih jauh diyakini Ausubel sebagai sebuah keniscayaan apabila seluruh pihak ingin meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.

The key concept for Ausubel is the cognitive structure. He sees this as the sum of all the knowledge we have acquired as well as the relationships among the facts, concepts and principles that make up that knowledge. Learning for Ausubel is bringing something new into our cognitive structure and attaching it to our existing knowledge that is located there. This is how we make meaning, and this was the focus of his work.

Konsep utama dalam teori pembelajaran Ausubel adalah struktur kognitif. Ausubel melihat struktur kognitif sebagai keseluruhan pengetahuan yang telah diketahui dan dipahami peserta didik sebelumnya yang mencakup hubungan/keterkaitan antara data, fakta, konsep, dan prinsip-prinsip dasar yang menyusun bangun ilmu pengetahuan.

Pembelajaran, bagi Ausubel didefinisikan sebagai membawa sesuatu yang baru ke dalam struktur kognitif yang sudah dimiliki peserta didik dan menambahkannya ke bangun ilmu pengetahuan yang terdapat dalam stuktur kognitif tersebut. Inilah cara yang diyakini Ausubel dapat diterapkan untuk menciptakan sebuah pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Pembelajaran bermakna telah menjadi fokus utama kajian Ausubel selama berpuluh-puluh tahun dan dapat ditemukan dalam pemikiran dan karya-karyanya mengenai teori pembelajaran.

Source : http://www.theoryfundamentals.com/ausubel.htm