slide_1

Sumber: http://slideplayer.com/slide/6817126/

Dalam pendekatan saintifik pembelajaran, guru membimbing siswa dalam kegiatan belajarnya secara mandiri. Melalui proses ini lambat laun akan membentuk karakter saintifik dan keterampilan proses sains sehingga tertanam menjadi karakter yang kuat (solid) dalam diri siswa. Menurut Bybee & DeBoer (1993) dikutip oleh Ozgelen (2012): bahwa science process skills atau keterampilan  proses sains adalah suatu keterampilan berpikir yang dipraktikkan oleh para ilmuwan (scientist) dalam rangka mengkonstruksi bangun pengetahuan. Hal ini bertujuan guna memecahkan masalah dan merumuskan hasil dari aktifitas ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuwan tersebut. Metode ilmiah, berpikir saintifik, dan berpikir kritis merupakan istilah sejenis dimana pengertian istilah-istilah tsb juga digunakan untuk merujuk pada hal yang sama yaitu keterampilan proses sains.  Sungguh pun demikian, pada dua dasawarsa terakhir istilah “science process skills” (keterampilan proses sains) lebih sering digunakan di lingkup akademik.

Dimyati & Mudjiono (2009) berpendapat bahwa yang dimaksud dengan pendekatan keterampilan proses sains adalah suatu wawasan atau anutan pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya telah ada dalam diri siswa. Dimyati & Mudjiono membagi keterampilan proses sains menjadi dua jenis keterampilan yaitu keterampilan dasar dan keterampilan terintegrasi. Keterampilan dasar meliputi enam macam keterampilan, yakni: mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Sedangkan keterampilan terintegrasi terdiri dari: mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan hubungan antar variabel, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisis penelitian, menyusun hipotesis, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian dan melaksanakan eksperimen. Antara pendekatan saintifik pembelajaran dengan keterampilan proses sains memiliki hubungan yang cukup erat. Proses pembelajaran saintifik sangat menekankan pentingnya siswa mampu belajar secara aktif, mandiri, dan konstruktif dimana muara akhir dari proses pembelajaran ini adalah menuntun keberhasilan siswa dalam menguasai keterampilan proses sains sebagaimana telah diuraikan di atas.

Teori konstruktivisme dari sudut pandang ruang lingkup penerapannya dalam proses pembelajaran memandang bahwa peserta didik dalam setiap proses pembelajaran yg diikutinya selalu melakukan aktivitas mengkonstruksi kegiatan belajar dan mentransformasikan berbagai informasi yang diterimanya sebagai dasar atau fondasi yang kuat dalam membangun pengetahuan secara mandiri. Pada prinsipnya, teori ini menekankan bahwa setiap jenis pengetahuan dikonstruksi sendiri oleh seorang pembelajar, alih-alih menerima mentah-mentah segala informasi yang berasal dari luar. Sebagai contoh, suatu pengetahuan tidak lantas begitu saja terletak pada fisik (cover, kertas, gambar, dsb) dari sebuah buku, akan tetapi siswa harus berupaya mencari dan menemukannya secara mandiri dengan cara “membaca” buku tersebut (Lowenthal & Muth dalam Provenzo Jr., 2008). Dengan memahami filosofi contoh di atas maka bagi peserta didik kegiatan belajar mandiri-konstruktivistik diharapkan dapat menjadikan kegiatan belajar lebih bermakna (meaningful learning), bukan sekadar hafalan (rote learning).

Sejalan dengan pendekatan saintifik di atas, salah satu yang menjadi ciri teori konstruktivisme adalah bahwa fokus utama kegiatan belajar terletak pada: proses belajar. Penilaian hasil belajar lebih menekankan pada kinerja dan pemahaman siswa. Hasil belajar sebagai tujuan memang dinilai penting, namun proses yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar juga tidak kalah penting. Terkait hal tersebut Tenenbaum et al. (2010) memberikan saran bahwa dalam upaya membentuk jiwa konstruktivis dalam diri peserta didik akan mencapai suatu keberhasilan jika pada tahapan pembelajaran sebelumnya telah ada persiapan yang memadai, yang disertai pula dengan bimbingan maupun pendampingan yang intensif oleh guru. Terjadinya proses penemuan (discovery) oleh siswa secara mandiri hanya dimungkinkan jika peserta didik telah memiliki pemahaman dan keterampilan awal mengenai domain pengetahuan yang sedang dipelajarinya (Tenenbaum et al., 2010).

Referensi:

Dimyati & Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Ozgelen, S. 2012. Students’ Science Process Skills within a Cognitive Domain Framework. Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 8 (4), 2012, pp. 283 – 292.

Provenzo Jr., E. F. 2008. Encyclopedia of the Social and Cultural Foundations of Education. Thousand Oaks, California: Sage.

Tenenbaum, H. R. et al. 2010. Does Discovery-Based Instruction Enhance Learning? Journal of Educational Psychology, vol. 103 no. 1, pp. 1 – 18.

Advertisements