1391876862-3

Sumber: https://www.iat.com/courses/high-school-science/astrobiology/?type=approach

Pada umumnya, metode pembelajaran konvensional sangat menitik beratkan hanya pada satu aspek pengembangan pembelajaran saja yakni ranah kognitif siswa. Kenyataan tersebut sekiranya perlu diimbangi dengan memperhatikan pengembangan aspek lainnya melalui pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran itu sendiri. Timbul pertanyaan, pendekatan pembelajaran seperti apakah yang sesuai guna mengembangkan; disamping ranah kognitif juga sekaligus ranah afektif dan psikomotik peserta didik? Menurut Nasution (2013) dalam Prahastiwi et al. (2014), pendekatan saintifik pembelajaran dipandang paling baik diimplementasikan dalam rangka mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik. Senada dengan pernyataan tersebut, pendekatan saintifik tidak hanya memandang hasil belajar sebagai muara akhir, namun proses pembelajaran juga dipandang sangat penting (Nulfida, 2014).

Pendekatan saintifik pembelajaran dapat digunakan sebagai cara yang handal guna mengasah sikap, karakter dan keterampilan proses sains siswa. Dalam pendekatan saintifik pembelajaran, siswa mengeksplorasi dan mengelaborasi teori, prinsip atau konsep fisika yang diperoleh dari pengalaman langsung (first-hand experiences). Alih-alih memenuhi otak siswa dengan rumus-rumus fisika atau abstraksi matematis yang sukar dipahami, siswa diajak untuk mengamati dan melakukan percobaan ilmiah sendiri dan pada akhirnya dapat menarik kesimpulan dengan benar atas eksperimentasi gejala fisis yang disodorkan kepadanya. Proses pembelajaran tersebut dapat melalui berbagai kegiatan belajar yang memberikan pengalaman langsung kepada siswa seperti misalnya eksperimentasi, praktikum atau percobaan di laboratorium. Karena dengan kegiatan pembelajaran yang bersifat hands-on dan minds-on activities, siswa akan terasah keterampilan berpikir (kognitif) dan keterampilan olah kerja tangan (psikomotorik) sehingga keduanya menjadi seimbang. Hal senada diungkapkan oleh Buxton (2002) dalam Ningrum (2014) bahwa pembelajaran saat ini masih menekankan pada abstract conceptualization dan kurang mengembangkan active experimentation, padahal seharusnya keduanya seimbang dan proporsional sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar dan dapat membangun konsep mereka sendiri.

Pendekatan saintifik pembelajaran menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran (student centered). Siswa aktif membangun sendiri konsep dan mengkonstruksi pengetahuan. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari kepala guru ke kepala siswa tanpa siswa itu sendiri berupaya membangun makna pengalaman pembelajaran yang diikutinya. Dengan demikian maka melalui pendekatan saintifik pembelajaran, pengembangan kemampuan berpikir abstrak pada ranah kognitif akan dapat diimbangi secara simultan dengan pengembangan ranah afektif dan psikomotorik yang selama ini belum banyak disentuh oleh pendekatan konvensional. Dengan melengkapi ketiga aspek tersebut, diharapkan tujuan penyelenggaraan pendidikan sebagaimana dikemukakan oleh Charles E. Silberman  dalam Sagala (2009) yang dikutip oleh Setiono et al. (2012) akan tercapai, atau sekurang-kurangnya mendekati kondisi ideal.

Referensi:

Ningrum, A. M. Y. 2014. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berpendekatan CTL Berbantuan Modul Hands-Minds on Activity. Jurnal Chemistry in Education, 3 (2) (2014), hal. 118 – 125

Nulfida, M. I. 2014. Implementasi Pendekatan Saintifik dan Karakter dalam Pembelajaran Sains Menyongsong Generasi Emas Indonesia. Prosiding Pendidikan Sains FKIP UNS. Seminar Nasional Pendidikan Sains IV (SNPS 2014), vol. 1 no. 1, 2014.

Prahastiwi, R. B. et al. 2014. Penerapan Pendekatan Saintifik untuk Meningkatkan Karakter Rasa Ingin Tahu dan Prestasi Belajar Siswa Kelas X MIA 3 SMA Negeri 6 Malang. Jurnal Online Universitas Negeri Malang, vol. 3 no. 1, 2014.

Setiono, E. F. et al. 2012. Problem Based Learning dalam Pembelajaran Fisika Menggunakan Simulation Based Laboratory (SBL) dan Video Based Laboratory (VBL). Jurnal Materi dan Pembelajaran Fisika, vol. 2 (2012), hal. 25 – 36.

Advertisements