slide_3

Sumber: http://slideplayer.info/slide/3050429/

Satu dari beberapa hal yang saat ini harus menjadi perhatian bagi seluruh kalangan pelaku dan praktisi di bidang pendidikan adalah bagaimana agar upaya pengembangan ranah afektif dan psikomotorik dalam rangka membentuk sikap, cara pandang, dan mental ilmiah serta mengasah dan meningkatkan keterampilan ilmiah siswa dapat benar-benar terimplementasikan secara riil dalam proses pembelajaran.

Secara teknis, dalam penerapan metode pembelajaran inquiry-discovery, adanya tools kuesioner guna membantu menyusun  penilaian ranah afektif siswa diharapkan dapat diperoleh melalui angket persepsi afektif siswa. Demikian halnya penilaian ranah psikomotorik sekiranya dapat diperoleh melalui angket persepsi psikomotorik yang diberikan kepada siswa setelah siswa selesai mengikuti metode pembelajaran inquiry-discovery. Adapun penilaian aspek kognitif siswa seperti misalnya memberikan tes kuantitatif sebagai prasyarat ketuntasan belajar kadangkala tidak selalu harus diberikan secara bersamaan dengan penilaian kedua aspek pembelajaran yang sedang dibahas dalam tulisan ini yaitu aspek afektif dan psikomotorik. Hal tersebut karena penulis telah melihat fakta bahwasanya dalam pendekatan konvensional pembelajaran yang selama ini terjadi, sebagian besar telah diterapkan oleh tenaga pengajar di dalam mengelola kelas terutama dalam hal pemberian latihan soal-soal dan tugas secara klasikal sudah terlaksana dan dipandang mencukupi bagi siswa.

Bahkan adakalanya juga sampai berlebihan hingga membuat siswa frustasi dan terkena masalah kejiwaan yang cukup serius disebabkan oleh nilai yang diterimanya sehabis mengikuti tes atau ulangan harian, guru yang bersangkutan memberikan nilai yang rendah sementara kondisi siswa kurang dapat menerima kenyataan bahwa dirinya -apabila sekadar dihargai dari penilaian aspek kognitif tersebut- siswa merasa kehidupannya dihargai sangat rendah apakah dia tidak mempunyai kelebihan atau kemampuan yang lain selain mengejar “nilai ulangan” setinggi-tingginya. Hal tersebut boleh jadi justru berujung menjatuhkan dirinya dalam nestapa yang akan merugikan dirinya sendiri hingga dikhawatirkan pada kegagalan demi kegagalan berikutnya yang akan dialami siswa dalam mengikuti proses pembelajaran berikutnya. Paradigma pembelajaran dimana kemampuan kognitif sudah dianggap semacam “Dewa” semacam ini sudah seharusnya mulai dapat dirubah dan diperbaiki sedikit demi sedikit jika memang ada niat serius ingin berkontribusi memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia.

Di sisi lain, pendekatan konvensional yang lebih berpusat pada guru (teacher centered) senyatanya kurang memberikan porsi pengembangan yang memadai dalam kaitannya dengan mengembangkan ranah afektif dan psikomotorik siswa. Ditambah lagi bahwa senyatanya metode konvensional seperti yang saat ini tengah berlangsung sangat massif umumnya hanya memfokuskan tujuan pembelajaran demi mencapai hasil kognitif  pembelajaran yang sangat disayangkan hanya dinilai dari satu macam aspek saja yaitu ranah kognitif siswa. Hal ini  dengan “mewajibkan” siswa meraih nilai setinggi-tingginya. Bagi sebagian siswa yang sudah terprovokasi oleh metode pembelajaran kognitif ekstrem sebagaimana diuraikan di atas, nilai tinggi bisa jadi telah “dituhankan” sebagai satu-satunya “dewa penyelamat” bagi kehidupannya. Oleh sebab itu perlu sekali ditekankan bahwa metode pembelajaran konstruktivistik akan lebih menitikberatkan pada proses dan penemuan pengetahuan, yakni suatu cara pembelajaran yang dipandang tepat sehingga pengembangan ranah kognitif dapat diimbangi secara simultan dengan pengembangan dua aspek lainnya yakni ranah afektif dan ranah psikomotorik.

Advertisements