Sumber: http://www.slideshare.net/GabbieAllTheWay7/jerome-bruner-29348314

Prinsip-prinsip pembelajaran Discovery Learning antara lain sebagai berikut (Thorsett, 2002):

1. Instruksi pembelajaran harus dapat menghubungkan antara pengalaman dengan konteks pembelajaran sehingga memotivasi dan memacu kesiapan belajar peserta didik.

2. Instruksi pembelajaran harus terstruktur dan mudah dipahami oleh peserta didik.

3. Instruksi pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga mampu memfasilitasi proses ekstrapolasi (extrapolation), yaitu proses menarik kesimpulan (inferring) sesuatu yang tidak diketahui dengan berpijak pada fakta-fakta yang telah diketahui. Instruksi pembelajaran juga didesain agar dapat mengisi kekurangan pembelajaran dan mengajak berpikir kreatif melampaui materi pembelajaran.

Thorsett (2002) menyebutkan sedikitnya ada empat komponen pembelajaran Discovery Learning yaitu:

1. Curiosity and uncertainty (Keingintahuan dan ketidakpastian)
2. Structure of knowledge (Struktur Pengetahuan)
3. Sequencing (Tata Urutan)
4. Motivation (Motivasi)

Bruner (1961) dalam Kimberg, et al. (1998) mengungkapkan fenomena yang telah sekian lama terjadi, proses pembelajaran di sekolah-sekolah umumnya disajikan dalam “metode ekspositori”, dimana guru mengendalikan sepenuhnya materi dan interaksi pembelajaran di kelas. Bertolak belakang dengan metode tersebut, terdapat metode pembelajaran yang menurut Bruner lebih efisien yaitu “metode hipotesis”. Dengan menerapkan metode ini akan terbangun pola hubungan kooperatif antara guru dengan siswa dalam suasana pembelajaran yang aktif dan kondusif bagi siswa untuk menyusun hipotesis eksperimen.

Saptono & Senin (2009) dalam penelitian berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran Discovery Learning Ilmu Pendidikan untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Pendidikan Mahasiswa PGSD FIP UNY” menyebutkan bahwa model pembelajaran discovery yang dikembangkan dalam penelitian ini merujuk pada model pengolahan informasi yang menekankan pentingnya berpikir induktif, yaitu model yang tepat untuk melatih dan mengembangkan kemampuan berpikir.

Model ini juga bertalian dengan pembentukan moral sosial, dan pengetahuan dengan struktur kognitif yang ada. Penelitian menerapkan pendekatan collaborative classroom action research. Pendekatan tersebut dimaksudkan guna memecahkan permasalahan pembelajaran dengan metode Discovery Learning terkait variabel penelitian yang dilibatkan.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pengembangan metode pembelajaran Discovery Learning yang diterapkan bagi mahasiswa PGSD FIP UNY secara signifikan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap materi yang diajarkan. Mahasiswa memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai pokok bahasan pendidikan ditinjau dari empirik praktik maupun teoritik.

*) This article is only an excerpt.

 

Referensi:

Kimberg, Daniel Y. et al. 1998. Cognitive and Motivational Consequences of Tutoring and Discovery Learning. U.S. Army Research Institute for the Behavioral and Social Sciences.

Saptono, Bambang & Senin, Anwar. 2009. Pengembangan Model Pembelajaran Discovery Learning Ilmu Pendidikan untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Pendidikan Mahasiswa PGSD FIP UNY. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan (JPIP) Volume 2 Nomor 1 Maret 2009, Halaman 54 – 66.

Thorsett, Peter. 2002. Discovery Learning Theory, A Primer for Discussion. EPRS 8500 – 09-09-2002.

Advertisements