Lokasi                         : Halaman Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta

Tanggal                      : 9 Maret 2016

Waktu Gerhana        : 06.20 – 08.35 WIB

IMG_4496

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Acara dimulai dengan pelaksanaan salat khusyuf (gerhana) berjamaah, dilanjutkan khutbah oleh Dr. Rinto Anugraha (UGM). Panitia penyelenggara dalam hal ini Jogja Astro Club (JAC) menyediakan bagi pengunjung, display berukuran besar yang dipasang di halaman masjid Gedhe Kauman. Display menayangkan visualisasi real time, live streaming fenomena alam Gerhana Matahari yang sedang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Beberapa pakar astronomi menyebutkan bahwa peristiwa gerhana matahari total hanya akan berulang pada titik koordinat yang sama di permukaan bumi sekitar 300 tahun lagi dari sekarang. Display terhubung ke sebuah laptop dan dengan bantuan software astronomi, dapat menampilkan secara langsung peristiwa gerhana matahari sebagian (partial solar eclipse) di Yogyakarta dan daerah-daerah lain yang mengalami gerhana matahari total (total solar eclipse) seperti Palembang, Bangka-Belitung, Palu dan Ternate.

IMG_4499

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Nampak dalam tayangan display, gerhana matahari yang tengah berlangsung di Ternate, salah satu daerah di Indonesia yang mengalami Gerhana Matahari Total (100%). Hal tsb dikarenakan titik koordinat kota Ternate tepat berada di daerah umbra, yaitu area gelap di permukaan bumi pada saat gerhana matahari, dimana berkas cahaya matahari seluruhnya terhalangi (blocked) oleh bulan. Gerhana Matahari Total terjadi apabila orbit bulan tepat berada pada garis lurus antara bumi dan matahari, piringan bulan menghalangi piringan matahari yang mengakibatkan seolah-olah matahari menghilang atau tersamarkan (obscured) bila diamati dari  permukaan bumi. Dalam visualisasi display, bulan nampak berwarna hitam kelam, dan matahari berwarna putih terang. Pada saat ditayangkan, posisi bulan sedang bergerak pelan menutupi matahari. Gambar diambil beberapa menit menjelang puncak total solar eclipse di wilayah Ternate dan sekitarnya. Dapat kita saksikan bahwa piringan matahari hampir 50% tertutupi oleh piringan bulan.

IMG_4500_edit

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Teleskop refraktor merk Vixen yang digunakan oleh kru JAC untuk mengamati gerhana matahari. Nampak pengunjung dan masyarakat cukup antusias berdatangan ke lokasi pengamatan gerhana matahari. Masyarakat dapat melihat dari dekat berbagai peralatan astronomis yang digunakan tim JAC maupun turut serta secara langsung mengamati proses terjadinya gerhana. Foto di bagian belakang nampak seorang perempuan mencoba kacamata khusus untuk menyaksikan gerhana matahari yang disediakan oleh panitia. Sekilas kacamata berbahan dasar klise dan kertas karton ini mirip kacamata untuk melihat tayangan 3D. Penulis sempat mencoba kacamata tersebut, dan saat penulis mendongakkan pandangan ke matahari dengan memakai kacamata tsb, penulis menyaksikan matahari dalam wujud “aslinya”, bulatan terang menyilaukan yang di bagian pinggirnya sedikit tertutupi bintik hitam bulan, yang diakibatkan oleh efek atau glare gerhana.

IMG_4501_edit

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Foto di atas memperlihatkan seorang kru JAC mengenakan baju merah, jaket hitam, kalung tagline hijau dan kacamata hitam. Bersama salah seorang kru JAC ini, penulis berkesempatan sedikit banyak berbincang-bincang “ngalor-ngidul”, dan mengajukan beberapa pertanyaan perihal peristiwa gerhana matahari yang sedang terjadi. Pengunjung yang lain pun dengan rasa keingintahuan yang teramat besar terlihat asyik berdiskusi dan berulang kali melontarkan berbagai pertanyaan dan mengungkapkan rasa kekagumannya atas fenomena alam yang mengesankan ini, hingga membuat si kru JAC ini seperti dibombardir bertubi-tubi dari segala penjuru mata angin, karena posisinya yang memang “tepat” berada di tengah kerumunan.

IMG_4505

IMG_4506

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Foto di atas menampilkan sebuah komponen yang terpasang di bagian bawah teleskop, berbentuk lempeng lingkaran dimana berkas sinar datang dari teleskop dibiaskan pada permukaannya. Tanpa menggunakan lensa utama, kita dapat melihat suatu objek astronomis dalam hal ini matahari saat berlangsung gerhana, dengan cara mengamati pergerakan berkas sinar bias yang jatuh di permukaan lempeng lingkaran tsb. Tampilan objek hasil pembiasan akan sama persis dengan apabila kita meneropong menggunakan lensa utama. Foto di atas memperlihatkan kondisi matahari menjelang berakhirnya gerhana. Matahari nampak berwujud lingkaran berwarna putih terang dengan sedikit spot gelap di sisi kanan lingkaran yang menandakan bahwa bulan telah semakin bergeser menjauhi matahari.

Menurut penjelasan kru JAC, gerhana matahari yang terjadi di Yogyakarta adalah termasuk tipe gerhana matahari sebagian (parsial) dengan area tutupan penumbra sebesar 83%. Adapun penumbra adalah daerah gelap-terang di permukaan bumi pada saat terjadi gerhana dimana sebagian besar cahaya matahari terhalangi (blocked) oleh lempeng bulan dan hanya sebagian kecil diteruskan ke bumi. Awal gerhana terjadi pada sekitar jam 6.20 WIB. Puncak gerhana terjadi pada pukul 07.25 WIB> Bila diamati menggunakan teleskop, pada lempeng lingkaran yang menempel di teleskop nampak 83% piringan matahari telah berubah warnanya menjadi gelap tertutupi oleh piringan bulan. Puncak gerhana berlangsung singkat hanya sekitar 2 menit, hal ini mirip dengan di lokasi-lokasi lainnya. Gerhana berakhir pada sekitar pukul 08.35 WIB. Foto diambil sekitar 15 menit sebelum gerhana berakhir, sehingga spot hitam penutupan bulan  yang dapat diamati tinggal menyisakan sekitar 15 – 20% saja.

IMG_4507.JPG

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Pengunjung dan masyarakat dari berbagai latar belakang dan strata sosial, ekonomi tumpah ruah di halaman masjid Gedhe Kauman. Masyarat dari segala lapisan ini dalam memaknai peristiwa alam semacam gerhana matahari tentunya akan berbeda-beda menurut pola pikir, pemahaman dan pengetahuan mereka masing-masing.

IMG_4503

IMG_4504

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Perhelatan akbar “Partial Solar Eclipse Yogyakarta 2016” yang digelar di pelataran Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, has officially dismissed. Para pengunjung dan masyarakat beranjak meninggalkan lokasi, pulang ke rumah masing-masing.

Advertisements