Sumber: https://id.pinterest.com/jennysant/piaget-jean/

Piaget believed individuals must adapt to their environment. He described two processes for adaptation which is an organism’s ability to fit in with  its  environment,  assimilation  and accommodation (Dimitriadis & Kamberelis, 2006, p. 171). Assimilation is the process of using or transforming the environment so that it can be placed  in  preexisting  cognitive  structures. Accommodation is the process of changing cognitive structures in order to accept something from the environment. It changes the schema, so it can increase its efficiency (Campbell, 2006, p. 10).

Piaget meyakini bahwa individu harus mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Beliau menjabarkan dua proses adaptasi yang menjadi kemampuan makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yaitu: asimilasi, dan akomodasi (Dimitriadis & Kamberelis, 2006, hal. 171). Asimilasi adalah proses menggunakan atau mentransformasi lingkungan sedemikian rupa sehingga layak ditempati dalam struktur kognitif yang telah ada sebelumnya (preexisting). Akomodasi adalah proses merubah struktur kognitif dalam rangka menerima sesuatu yang baru dari lingkungan. Hal tersebut pada gilirannya merubah skema pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan efisiensi. (Campbell, 2006, hal. 10).

According to Piaget, the developmental ideal is a balance between assimilation and accommodation, which is also known as equilibrium. Piaget believed when a balance between children’s mental schemas, which is a “…mental image produced in response to a stimulus that becomes a framework or basis for analyzing or responding to other related stimuli” and the external world has been reached, children are in a comfortable state of equilibrium (Agnes, 1999, p. 1282).

Menurut Piaget, perkembangan pembelajaran yang ideal akan tercapai apabila terjadi keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi, atau yang lebih dikenal dengan istilah equilibrium. Piaget meyakini bahwa ketika terjadi keseimbangan skema mental peserta didik, dimana kondisi tersebut dijabarkan sebagai: “…gambaran mental yang dihasilkan untuk menanggapi stimulus, yang kemudian dijadikan sebagai kerangka kerja atau basis dalam menganalisis atau merespon terhadap stimulus lain yang berkaitan”. Dan apabila “dunia eksternal” (yaitu stimulus yang berasal dari lingkungan yang berada di luar skema mental) ini dapat dimengerti dan dipahami oleh peserta didik, maka peserta didik telah mencapai kondisi equilibrium. (Agnes, 1999, hal. 1282).

Thus, students have already mastered what has been taught and have confidence in their abilities to do or perform the assigned task. During this time, students are not in the process of acquiring  new  information  or  learning. Disequilibrium occurs when children come across new  environmental  phenomena;  these  new environmental phenomena, however, often do not fit exactly into children’s mental schemas. Students are drawn towards disequilibrium because of their curiosity. Teachers should use disequilibrium to motivate their students because it allows for changes in students’ mental structures.

Dengan demikian, ketika memasuki kondisi equilibrium peserta didik telah dapat menguasai materi yang diajarkan dan memiliki rasa percaya diri dalam mengerjakan setiap tugas yang diberikan. Dalam kurun waktu tsb, peserta didik tidak sedang memproses atau mencari informasi maupun pembelajaran baru. Kondisi disequilibrium terjadi manakala peserta didik berhadapan dengan fenomena lingkungan pembelajaran baru yang kadangkala tidak bersesuaian dengan skema mental peserta didik.

Dalam situasi disequilibrium, peserta didik sedikit demi sedikit mulai menyerap dan memahami pengetahuan baru. Hal tsb dipicu oleh rasa keingintahuan yang sangat besar (curiosity). Tenaga pengajar dan para guru disarankan untuk memanfaatkan momentum disequilibrium dengan semakin memotivasi peserta didik, karena dalam situasi tsb memungkinkan terjadinya perubahan struktur mental dalam diri peserta didik.

Piaget’s theory has not been universally accepted by all. Some researchers believe Piaget underestimates children’s knowledge. Complex skills can be acquired easily once simpler prerequisite skills have been learned (Croker, 2003). Some have noted that the stages in his theory have inconsistencies. He ignored social and cultural groups  in  his  research.  Piaget’s  tasks underestimated the impact of culture by being culturally biased. And, formal operational thinking is not universal.

Sungguh pun demikian, teori pembelajaran yang dicetuskan oleh Piaget belum dapat diterima secara universal oleh seluruh pihak. Beberapa peneliti dalam bidang ini mempercayai bahwa teori pembelajaran Piaget justru memandang sebelah mata pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik. Menurut pandangan yang mengkritisi teori Piaget, menyatakan bahwa keterampilan yang rumit/kompleks dapat dikuasai secara mudah begitu keterampilan sederhana yang diperlukan untuk menguasai keterampilan kompleks telah dikuasai dengan baik (Croker, 2003).

Beberapa pakar yang lain berpendapat bahwa tahapan pembelajaran dalam teori pembelajaran Piaget tidak konsisten. Piaget dalam penelitiannya mengesampingkan fakta terdapatnya kelompok sosial dan kultural. Tugas-tugas yang diberikan Piaget kepada sampel penelitian (peserta didik) dianggap memandang rendah dampak kultural sebagai bagian inheren peserta didik yang berasal dari beragam budaya, sehingga penelitian Piaget dapat dikatakan bias secara kultural. Disamping itu, cara berpikir operasional-formal yang diusung Piaget dalam teorinya dianggap tidak universal.

Referensi:

Agnes, M. (Ed). (1999). Webster’s New World College Dictionary (Edisi Ke-4). New York: Macmillan.

Campbell, R. L. (2006). Jean Piaget’s Genetic Epistemology: Appreciation and Critique. Clemson, SC: Department of Psychology. Diakses pada  4 Maret 2008  dari http://hubcap.clemson.edu/~campber/piaget.html.

Croker,  S.  (2003).  Children’s  Cognitive Development: Alternatives to Piaget. Derby, England: Derby University-School of Psychology.

Dimitriadis, G. and Kamberelis, G. (2006). Theory for  Education.  London:  Routledge Publishing.

Tulisan diambil dari makalah berjudul: “Developmental Psychology: Incorporating Piaget’s and Vygotsky’s Theories in Classrooms” oleh: Barbara Blake dan Tambra Pope. Journal of Cross-Disciplinary Perspectives in Education Vol. 1, No. 1 (Mei 2008) halaman: 59 – 67.

Advertisements