pcl_0001_0001_0_img0038

Jean Piaget in a classroom. Bill Anderson/Photo Researchers, Inc.

Sumber:  http://www.education.com/reference/article/cognitive-development2/ 

In  1896,  Jean  Piaget  was  born  in Switzerland. He was “…a psychologist with a fundamentally biological orientation” (Campbell, 2006, p. 1). Cognitive structures, which are “basic, interconnected psychological systems that enable people to process information by connecting it with prior knowledge and experience, finding patterns and relationships, identifying rules, and generating abstract  principles  relevant  in  different applications,” mattered to Piaget (Garner, 2008, p. 32).

Pada tahun 1896, Jean Piaget lahir di Swiss. Beliau adalah “…Seorang psikolog dengan dasar orientasi studi ilmu biologi yang kuat” (Campbell, 2006, hal. 1). Struktur kognitif, yakni sistem dasar psikologis yang saling terkait yang memungkinkan manusia untuk memproses informasi dengan cara menghubungkan dengan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya, menemukan pola dan hubungan, mengidentifikasi aturan/perintah, dan menggeneralisasi prinsip-prinsip abstrak yang relevan dalam berbagai penerapan, kesemuanya merupakan sesuatu yang penting bagi Piaget (Garner, 2008, hal. 32).

He believed in operative knowledge, which implies that change and transformation produce knowledge. While working at Alfred Binet’s laboratory, he became interested in studying students’ wrong responses. Piaget wanted to study the errors children made, and the possibility that the errors were not random. His theory purports the process of coming to know, and the stages we move through as we gradually acquire this ability. Piaget  “belongs to the constructivism perspective that sees learning as construction (Dahl, 1996, p. 2).

Piaget meyakini konsep pengetahuan operatif, yaitu suatu konsep dalam pembelajaran yang menekankan bahwa segala bentuk perubahan dan transformasi akan menghasilkan pengetahuan. Pada saat bekerja di Laboratorium Alfred Binet, beliau tertarik mempelajari respons/jawaban salah dari siswa. Piaget lalu mempelajari kesalahan yang dibuat oleh siswa tsb, dan menduga bahwa kesalahan tidak terjadi secara acak. Teori pembelajaran Piaget terutama menyarankan tentang proses “mendatangi” untuk memperoleh pengetahuan, dan adanya tingkatan-tingkatan yang dilalui seiring tahapan seseorang menguasai suatu keterampilan. Piaget “melihat pembelajaran dari sudut pandang konstruktivisme yang melihat pembelajaran sebagai sebuah konstruksi (Dahl, 1996, hal. 2).

Piaget identified four stages in cognitive development:  sensori-motor,  pre-operational, concrete, and formal. Children in the sensori-motor stage, also called infancy, are likely to learn by using their five senses, object permanence, and actions that are goal-directed. Infants and children do not think the way adults do. Young children experience egocentrism because they fail to understand how someone else’s point of view might be different from their own–or they fail to coordinate their point of view with that other person’s (Campbell, 2006, p. 5).

Piaget mengidentifikasi empat tahapan perkembangan kognitif: sensori-motor, pra-operasional, konkret, dan formal. Anak-anak dalam tahap sensori-motor, disebut pula kanak-kanak/infancy, biasanya menyenangi kegiatan belajar dengan memanfaatkan kelima indra, kehadiran objek/benda-benda di sekelilingnya, dan tindakan yang diarahkan pada suatu tujuan tertentu. Kanak-kanak tidak berpikir sebagaimana orang dewasa.

Kanak-kanak seringkali menampakkan sifat egosentris (menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat pemikiran/perbuatan, berpusat pada diri sendiri, menilai segalanya dari sudut pandang diri sendiri) hal ini karena pada dasarnya mereka belum mampu memahami sudut pandang orang lain yang berbeda dengan sudut pandangnya, atau bisa juga disebabkan karena belum memiliki kemampuan untuk mengkoordinasikan/menyampaikan sudut pandangnya kepada orang lain (Campbell, 2006, hal. 5).

The preoperational stage spans ages two through seven. During this period, children are able to do one-step logic problems, develop language, continue to be egocentric, and complete operations. Children in this stage, however, struggle with centering and conservation. The concrete stage occurs during ages seven through eleven. From age twelve to adulthood, children enter the formal operations stage, which allows them to think logically and show lingering egocentrism.

Tahap pra-operasional terjadi pada rentang usia 2 – 7 tahun. Dalam periode ini, anak-anak telah memiliki kemampuan untuk menyelesaikan satu problem logis, mengembangkan kemampuan berbahasa,  mampu menyelesaikan sebuah tugas, namun terkadang masih menampakkan sifat egosentris. Meski demikian, anak-anak pada tahap ini  cenderung hanya dapat memfokuskan diri pada satu aspek dalam situasi tertentu dan mengabaikan aspek-aspek yang lain, ini disebut sebagai centering atau centration. Selain itu, anak-anak pada tahap pra-operasional juga mengalami suatu kondisi yang disebut sebagai conservation, yaitu ketidakmampuan atau keterbatasan dalam berpikir logis (logical thinking).

Tahap konkret terjadi pada rentang usia 7 sampai dengan 12 tahun. Dari usia 12 tahun sampai dengan  dewasa, anak-anak memasuki tahap operasional-formal, dimana pada tahap ini telah mampu berpikir secara logis dan tidak lagi terlalu menonjol sifat egosentrismenya.

Referensi:

Campbell, R. L. (2006). Jean Piaget’s Genetic Epistemology: Appreciation and Critique. Clemson, SC: Department of Psychology. Diakses pada  4 Maret 2008  dari http://hubcap.clemson.edu/~campber/piaget.html

Dahl,  B.  (1996).  A  Synthesis  of  Different Psychological Learning Theories? Piaget and Vygotsky. Trondheim, Norway: Norwegian University of Science and Technology, Norwegian Center for Mathematics Education.

Garner, B.K. (2008). When Students Seem Stalled: The Missing Link for Too Many Kids Who Don’t  “Get  It?”  Cognitive  Structures. Educational Leadership 65(6), 32-38.

Tulisan diambil dari makalah berjudul: “Developmental Psychology: Incorporating Piaget’s and Vygotsky’s Theories in Classrooms” oleh: Barbara Blake dan Tambra Pope. Journal of Cross-Disciplinary Perspectives in Education Vol. 1, No. 1 (Mei 2008) halaman: 59 – 67.

Advertisements